Statistik Kunjungan
Total kunjungan sebanyak:
kunjungan sejak 2008.
Untuk melihat rincian kunjungan, silahkan klik di sini.

Warga di Kampung Ini Terbiasa Lihat Air Sumur Berubah-ubah Warna

limbah

BANDUNG, KOMPAS.com – Neni Rohaeni (44), warga Desa Rancatungku, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung menghela nafas panjang. Dilihatnya sumur, tak ada perubahan. Air di dasarnya masih berwarna kuning kecoklatan, disertai bau tak sedap yang begitu menyengat.

“Sejak musim kemarau sumur di sini tercemar limbah dari industri di sekitaran sini. Katanya, pabrik-pabrik di sini enggak punya pembuangan (IPAL: Instalasi Pengelolaan Air Limbah), sehingga limbah langsung dibuang ke sungai,” ujar Neni di Bandung, Selasa (28/10/2014).

Kondisi itu sudah tak aneh. Warga sudah terbiasa melihat sumur warnanya berubah-ubah, mengikuti warna air sungai. Jika air sungai berwarna kuning atau kecoklatan, air di sumur pun berwarna kuning atau kecoklatan. Begitu pun ketika air sungai berwarna hitam pekat, otomatis air sumur berwarna hitam pekat. Ini terjadi karena jarak sungai dengan permukiman kurang dari 100 meter.

Akibat pencemaran lingkungan ini, Neni maupun ribuan warga di Rancatungku kesulitan air bersih. Mereka tidak berani menggunakan air sumur karena khawatir terkena penyakit kulit. Bahkan untuk minum, mereka sekarang harus membeli air kemasan.

“Pernah ada warga yang nekat mandi pake air sumur, mereka langsung gatal-gatal. Badannya jadi berwarna merah karena terus digaruk,” ucapnya.

Kini, Neni semakin bingung. Musim kemarau tak juga berakhir. Sedangkan air bersih semakin langka. Memang, tiap hari bantuan air bersih dari sejumlah organisasi relawan kemasyarakatan datang membantu. Namun karena kebutuhan air terbilang banyak, terkadang bantuan air masih kurang dan untuk mendapatkannya harus antre panjang.

Sementara itu, salah satu anggota relawan, Wawan mennyatakan, sumur yang tercemar limbah industri terjadi di beberapa tempat, seperti Rancatungku, Bojongmanggu, Majalaya, Cicalengka, dan Rancaekek. Karena tercemar limbah, masyarakat kesulitan air bersih. Karena itu, pihaknya mencoba memberikan bantuan 5.500 liter air setiap harinya bagi yang membutuhkan.

“Kami selalu mengupayakan memberi bantuan. Kami berharap masyarakat bersabar, karena penyaluran bantuan sering terkendala jumlah armada,” kata dia.

Tak hanya itu, di sejumlah perumahan di wilayah timur Bandung, air semakin kering. Ibu-ibu yang biasa mencuci menggunakan mesin cuci, kini kembali mencuci pakai tangan. “Airnya kecil sekali, mesin cuci ga akan muter kalau airnya hanya segini,” imbuh Karmini, warga Cibiru Bandung.

Sumber: Kompas