Pentingkah Berkemah Bagi Keluarga?

Dengan asumsi kita memiliki seluruh persyaratan yang dituntut, berkemah itu penting. Ini karena ada sejumlah alasan. Mungkin bentuknya tidak harus seperti benar-benar berkemah, layaknya sewaktu masih menjadi anggota Pramuka dulu. Yang penting, kita sekeluarga pergi ke suatu tempat yang jauh dari rumah dan di sana kita punya jadwal yang bebas.

Bagi orangtua, kegiatan semacam ini sangat pas untuk mengungkap perspektif lain dari hidup kita sebagai pribadi (personal dan profesional) atau keluarga. Ide-ide perbaikan itu kerapkali butuh fasilitas dan sensasi-sensasi. Bentuknya mungkin kita butuh perubahan suasana, keluar dari rutinitas sehari-hari atau merasakan sesuatu yang unik.

Bagaimana dengan anak-anak? Buat anak-anak, berkemah juga bisa dijadikan sarana untuk melatih kemampuan yang biasa disebut life skill. Cakupannya antara lain:

  • Anak akan belajar mengetahuai alam (learning to know). Buat anak yang lahir di kota, dimana persepsinya tentang alam sudah berubah, digantikan dengan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan, maka ini menjadi penting.
  • Anak akan belajar menggunakan alam sebagai guru (learning to be). Untuk anak yang sudah duduk di SD, orangtua bisa menyarankan membawa agenda pribadi dan meminta anak untuk menuliskan cita-citanya, ide-idenya, perbaikan-perbaikan kecil yang bisa dilakukannya, belajar mensyukuri alam, dan lain-lain.
  • Anak akan belajar bergaul dengan orang lain, entah itu adiknya / kakaknya atau teman baru di tempat yang baru (learning to live together)
  • Anak akan belajar menjadi mandiri (learning to do). Ini dengan syarat kita mampu berposisi sebagai mentor, misalnya memberi kesempatan anak untuk mencuci sendiri, memasak air, dan semisalnya. Anak akan belajar melakukan hal-hal yang praktis.

Apa yang perlu diingat saat kita menjadi mentor? Mentor ini tidak sama dengan guru atau pelatih (coach). Guru punya posisi yang sangat berwibawa sehingga kerap membuka jarak. Sedangkan pelatih punya bawaan yang sangat serius sehingga kurang terasa suasana free-nya. Yang perlu diingat saat menjadi mentor, antara lain:

  • Mentor punya kedekatan personal-individual yang lebih dalam. Usahakan anak tidak memandang kita sebagai orangtua yang sangat “berwibawa” supaya bebas bereksplorasi dan bereksperimentasi
  • Mentor posisinya di belakang dan tidak menargetkan sesuatu, seperti guru atau pelatih. Biarkan anak beraktivitas apa saja, sejauh itu tidak membahayakan atau sejauh dia tidak membutuhkan pendapat dari kita
  • Mentor memfasilitasi kematangan dan pertumbuhan, bukan memberi tugas
  • Mentor lebih menekankan pentingnya “ilmu hidup” atau berbagai pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman yang dibutuhkan untuk hidup, bukan ilmu akademik atau lainnya.

Itulah beberapa hal yang sangat mendasar ketika kita harus berposisi sebagai mentor saat kita mengadakan acara yang bebas di luar rumah. Semoga ini bermanfaat.

Sumber: Sahabat Nestle