Statistik Kunjungan
Total kunjungan sebanyak:
kunjungan sejak 2008.
Untuk melihat rincian kunjungan, silahkan klik di sini.

Pengertian Narsis

Narcissus atau Narsisus jatuh cinta terhadap dirinya sendiri. Lukisan karya Michelangelo Caravaggio.
Narcissus atau Narsisus jatuh cinta terhadap dirinya sendiri. Lukisan karya Michelangelo Caravaggio.

Narsisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan.  Istilah ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani, Narcissus, yang dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Tanpa sengaja ia menjulurkan tangannya, sehingga ia tenggelam dan tumbuh bunga yang sampai sekarang disebut bunga narsis.

Sifat narsisisme ada dalam setiap manusia sejak lahir, bahkan Andrew Morrison berpendapat bahwa dimilikinya sifat narsisisme dalam jumlah yang cukup akan membuat seseorang memiliki persepsi yang seimbang antara kebutuhannya dalam hubungannya dengan orang lain. Namun apabila jumlahnya berlebihan, dapat menjadi suatu kelainan kepribadian yang bersifat patologis.

Dalam Islam ada yang namanya sifat ujub, yaitu kagum dan bangga dengan diri sendiri, baik prestasi, akhlak maupun wujud jasmani. Dalam Majmu ‘Al-Fatawa dikatakan ujub adalah bagian dari perbuatan syirik terhadap diri sendiri, kedua sikap ini menyatu pada diri orang yang takabur.

Iblis pernah berkata kepada Nabi Musa As.:

“Bila mereka kagum kepada diri sendiri, lalu merasa dirinya telah banyak berbuat kebaikan, dan se-olah2 tidak mempunyai dosa, maka itulah lahan paling subur untuk menanan penyakit/kesumat di hati mereka.”

Dan dari Ibnu Mas’ud dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi Muhammad SAW bersabda :

” Tidaklah masuk surga barang siapa yang di dalam hatinya terdapat kesombongan yang sebesar biji dzarah (atom) sekalipun”. [Hadist Riwayat Muslim bab Imam 91 1/93 dan At-Tirmidzi bab Al-Birru was-shilah 1998-1999 4/360-361]

Dan dalam hadits yang lain disebutkan :

“Ada tiga hal yang dapat membinasakan diri seseorang yaitu : Kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti serta seseorang yang membanggakan dirinya sendiri”. [Hadits ini disebutkan oleh Al-Mundziry dalam kitab At-Targhib wa Tarhib 1/162 yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Al-Baihaqi serta dibenarkan oleh Al-Albany]

Sumber:
1. “Narcissism: An Introduction.” (Freud, Sigmund. 1914)
2. “Shame: The Underside of Narcissism.” (Morrison, Andrew. 1997)
3. Wikipedia
4. aqse.multiply.com