Membangun Kebiasaan Positif Di Kantor

Masih di suasana tahun baru ini, mungkin kita perlu menelaah kembali apakah kebiasaan kita selama ini di tempat kerja sudah mendukung iklim kerja yang produktif, harmonis, dan sinergis dengan rekan kerja, ataukah justru sebaliknya.

Hubungan kita yang tidak harmonis, tidak produktif atau tidak sinergis di kantor dapat membuat suasana batin kita negatif juga. Sayang ‘kan?

Biasanya, yang timbul bukan masalah yang terjadi secara besar atau insidentil, melainkan hal-hal kecil yang kita anggap remeh dan itu sudah menjadi kebiasaan. Misalnya kurang mau berkoordinasi, menggunakan ucapan yang bernada menyuruh, suka bergosip, enggan mengucapkan terima kasih, menggunakan fasilitas kantor untuk urusan pribadi di luar kewajaran, atau sering “memanfaatkan” rekan, dan lain-lain.

Begitu juga dengan hal-hal yang bisa menghormoniskan dan mensinergikan hubungan. Biasanya itu bukan karena kejadian besar tetapi karena kejadian kecil yang sering kita lakukan.

Dengan Menggantikan
Cara efektif untuk memperbaiki kebiasaan itu, menurut pengalaman banyak orang, bukan cara menghentikan kebiasaan yang kita anggap buruk. Ini juga bisa, tapi biasanya sangat sulit. Lebih-lebih jika kebiasaan itu sudah menjadi “bawaan”. Cara yang lebih mudah adalah dengan menggantikan yang lama dengan yang baru.

Contohnya kebiasaan gosip selama ini sudah memunculkan citra negatif di kalangan atasan atau rekan. Kalau kita berhenti langsung, biasanya ini berat. Akan lebih ringan kalau kita menggantikan kebiasaan itu pelan-pelan. Katakanlah bukan menggosip orang, tapi membicarakan peristiwa yang kita baca di koran.

Syarat mutlak (baca: tidak bisa ditinggalkan) untuk memperbaiki kebiasaan adalah memunculkan dorongan yang kuat untuk berubah ke arah yang lebih baik dari kesadaran-diri. Sebab, begitu kita merasa tak perlu berubah, entah merasa sudah benar atau bagaimana, atau dorongannya tidak kuat, maka perubahan sulit terwujud.

Lebih Baik Karena Kesadaran
Aristoteles berkesimpulan, orang itu berubah karena dua faktor, yaitu karena tekanan dari luar, dalam berbagai bentuk dan versi, atau karena kesadaran-diri, entah sebagai koreksi atau reaksi kita terhadap tuntutan lingkungan.

Baik karena tekanan atau kesadaran, keduanya bisa dibilang positif. Hanya, kalau berbicara mana yang lebih positif, maka perubahan yang karena faktor kesadaran-diri jauh lebih kontinyu prosesnya, lebih enteng menjalankannya, dan lebih langgeng efeknya. Ini berlaku untuk orang dewasa.

Bagaimana kalau anak-anak? Sebetulnya sama juga. Tapi, karena mereka belum punya kapasitas menyadari-diri, maka caranya adalah dengan mendisiplinkan. Tujuan disiplin adalah membiasakan atau untuk memperkuat kapasitas dalam mengontrol-diri. Semoga bermanfaat.

Sumber: SahabatNestle