Kerajinan Tas, Andalan Rancaekek
Kamis, 06 September 2007
KECAMATAN Rancaekek, Kab. Bandung yang lokasinya sekitar 43 Km dari pusat Pemkab Bandung menyimpan sejumlah potensi wilayah yang saat ini sedang dikembangkan dan dirintis warganya.
Seperti mengembangkan dan mempromosikan sebuah industri kerajinan tas yang bahan bakunya diambil dari limbah dan ranting pepohonan. Camat Rancaekek, Drs. H. Dadang Setiawan, M.Si. didampingi Sekretaris Kecamatan, Drs. Komarudin dan Kasi Pemberdayaan Masyarakat, Hj. Aam Amanah, S.Sos. mengatakan, kerajinan tas yang dihasilkan warga Komplek Bumi Rancaekek Kencana itu sempat dipamerkan dalam sebuah kegiatan menyambut Hari Jadi ke-366 Kab. Bandung, belum lama ini.
Kerajinan tas sebagai salah satu hasil karya terbaik warga Kec. Rancaekek, kata Dadang dengan nada bangga di ruang kerjanya, Jalan Raya Rancaekek, Senin (3/9). Menurutnya, dengan mengirimkan dan memamerkan produksi tas sebagai wakil dari Kec. Rancaekek, sempat mendapatkan perhatian dari Bupati Bandung, H. Obar Sobarna beserta istri, Ny. Iyan Obar Sobarna.
Bupati sempat menanyakan, ini kerajinan tas dari mana? Bahkan, beliau sempat mengatakan, kerajinan tas ini cukup bagus untuk dikembangkan. Dengan adanya kerajinan tas, katanya, sebagai wujud nyata adanya kreativitas dari warganya untuk mengembangkan kemampuannya dalam menyalurkan keahliannya. Namun dari hasil kerajinan tas itu, masih relatif minim dan baru digagas oleh seorang ibu rumah tangga bernama Ny. Yeti Hidayati di Kompleks Bumi Rancaekek Kencana.
Menurutnya, kerajinan tangan itu awalnya dikembangkan sendiri. Namun seiring perkembangan waktu dalam kerajinan itu, akhirnya sang penggagas awal melibatkan sejumlah orang terdekatnya. Yaitu, pada umumnya ibu rumah tangga yang sehari-harinya banyak meluangkan waktu.
Meski demikian, katanya, produksi tas yang dihasilkan sejumlah ibu-ibu rumah tangga itu dijadikan kerajinan unggulan warga setempat, termasuk produksi terbaik anak bangsa di Kab. Bandung. Karena itu, setiap ada pameran, produksi tas ini akan dijadikan andalan warga Kec. Rancaekek.
Disinggung apakah kerajinan itu bisa dipertahankan dan terus dikembangkan, ia mengatakan, jika didukung loyalitas dan permodalan yang cukup, mungkin bisa berkembang cukup bagus. Untuk saat ini kami akan membantu mereka dalam perizinan dan meminta izin dari Dinas Perindustrian Kab. Bandung. Karena untuk pengembangan home industry harus ada izin dari pemerintah terkait.
Peran pemerintah lainnya, katanya, yaitu melakukan pembinaan terhadap setiap perajin yang berkarya di bidangnya. Seperti berusaha memfasilitasi warga mengikuti pelatihan. Yang pelaksanaannya bekerja sama dengan Dinas Perindustrian Kab. Bandung.
Melalui pelatihan itu, selain untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) warga, juga diharapkan mereka bisa lebih profesional. Apalagi, katanya, dengan terbentuknya berbagai kesempatan warga untuk menciptakan lapangan kerja seperti itu, dapat menampung kesempatan warga yang menganggur untuk bekerja.
Kec. Rancaekek itu, meliputi 13 desa. Yakni, Desa Tegal Sumedang, Sukamanah, Rancaekek Wetan, Rancaekek Kulon, Bojongloa, Jelegong, Linggar, Sukamulya, Cangkuang, Tanjungmekar, Haurpugur, Sangiang, dan Bojongsalam.
Dari 13 desa itu dihuni 152.574 jiwa (13.094 kepala keluarga/KK), empat desa merupakan kawasan perumahan, yakni Desa Rancaekek Wetan, Rancaekek Kulon, Bojongsoa, Linggar, dan Desa Jelegong. Sedangkan sisanya adalah kawasan pertanian. Dari sekian banyak warga itu, terdapat 5.034 KK pra-KS dan KS-1. Sedangkan luas wilayah mencapai 4.604,37 ha.
Sumber : Harian Umum Galamedia Kamis,6 September 2007
