Grup BBM

Ini adalah Group Barcode dari BBM Group Warga Rancaekek... ajang berbagi informasi sekitar Rancaekek... tercinta... Untuk bergabung dengan group ini:

  1. Buka BLACKBERRY MESSENGER pada BlackBerry Anda.

  2. lalu scroll ke bawah hingga menemukan BLACKBERRY GROUPS.

  3. Pilih SCAN A GROUP BARCODE

  4. Arahkan kamera ponsel BlackBerry Anda ke monitor [Gambar barcode di atas]

  5. Posisikan Barcode di tengah layar ponsel Anda, dan Anda otomatis bergabung.

Chat Dengan Pengurus
Rancaekek di Facebook
RancaEkek.Com on Facebook
Donasi Via Paypal
Klik tombol di bawah ini untuk memberi donasi melalui PayPal atau Kartu Kredit kepada kami:

Catatan:
Donasi yang diberikan bukan untuk kepentingan Kecamatan Rancaekek, namun hanya untuk kelangsungan hidup website ini. Terimakasih.
Jumlah Pengunjung
Pengunjung sejak oktober 2008 -- Rincian

Archive for the ‘Sekitar Rancaekek’ Category

Candi Bojongmenje

Situs Rancaekek merupakan komplek purbakala yang diduga merupakan peninggalan masa pra-Islam di Jawa Barat yang terletak di Dusun Bojongmenje, Kalurahan Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Bandung, Jawa Barat. Situs ini terletak di dekat kawasan industri sehingga keberadaannya terancam.

Bersama-sama dengan Candi Cangkuang dan Situs Percandian Batujaya dan Situs Cibuaya, situs ini merupakan satu dari sedikit bangunan peninggalan masa Hindu-Buddha yang masih bisa dilacak di Jawa Barat.

SEJARAH

Kabupaten Bandung memiliki situs purbakala dalam bentuk candi ? Tidak semua orang tahu tentang hal ini. Umumnya candi-candi yang ada di pulau Jawa ditemukan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Belakangan, baru ditemui pula beberapa candi di wilayah Jawa Barat seperti apa yang terdapat di Situs Batujaya (Karawang) dan Candi Cangkuang (Garut). Baru pada bulan Agustus 2002, secara tidak sengaja seorang warga di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek yang hendak mencari tanah guna menguruk gang yang tidak rata tanahnya, menemukan sebuah rongga tanah yang di sekelilingnya terdapat tumpukan batu yang tertata rapi. Penemuan tumpukan batu tersebut akhirnya diputuskan sebagai bagian dari suatu candi oleh para arkeologi, semenjak saat itu dilokasi tersebut dilakukan ekskavasi untuk penemuan dan penelitian lebih lanjut.

Dugaan awal oleh para ahli arkeologi Candi Bojongmenje merupakan peninggalan dari abad ke 7. Bila hal itu benar, maka Candi Bojongmenje memiliki usia yang jauh lebih muda dibandingkan Candi di situs Batujaya yang merupakan peninggalan abad ke 2, namun memiliki umur hampir yang sama dengan Candi Dieng – Wonosobo. Bahkan menurut Timbul Haryono, umur Candi Bojongmenje bisa jadi lebih tua dibandingkan dengan Candi Dieng. Sambil menunjuk sejumlah bebatuan yang ditemukan oleh tim ekskavasi, Timbul Haryono mengungkapkan, indikasinya adalah tidak ditemukannya halfround atau bebatuan dengan profil yang setengah lingkaran. Tapi yang ada hanyalah bebatuan dengan profil segi panjang dan bingkai padma.

“Dari style, teknik pembuatan candi, dan ukuran bebatuan candinya cenderung mencerminkan sebagai candi tua seperti Dieng di Jawa Tengah,” ujar Timbul.

Dikemukakannya, Candi Bojongmenje yang diduga luasnya sekitar enam kali enam meter ini merupakan petunjuk di daerah tersebut pernah ada perkampungan masyarakat tertentu. Artinya, masyarakat tersebut merupakan bagian kecil dari sebuah struktur kerajaan pusat yang besar yang ditandai antara lain dengan berdirinya candi-candi berukuran besar sebagai tempat suci ibadahnya.

Karena itulah, diduga kuat selain di Bojongmenje, ada pula candi-candi sejenis yang didirikan oleh masyarakat tersebut sebagai tempat ibadahnya. Indikasi tersebut kian kuat dengan adanya aliran sungai Cimande dan sungai Citarik yang letaknya tak jauh dari lokasi Candi Bojongmenje. Bahkan ada informasi, sekitar dua kilometer dari lokasi Candi Bojongmenje ada pula mata air panas.

Menyinggung soal adanya batu ambang dengan corak dua lobang, Timbul memperkirakan batu ambang tersebut merupakan bagian dari relung candi. Begitu pula batu ambang dengan corak satu lobang, disebutkannya sebagai pecahan dari relung candi. Adapun soal temuan berupa batu bata, Timbul menilai, batu bata tersebut berusia tua dan merupakan bagian dari dalam “tubuh” candi yang bebatuannya tak terstruktur secara baik.

Dengan penemuan Candi Bojongmenje ini bisa jadi akan mengubah fakta sejarah. Fakta tersebut antara lain tentang arah penyebaran budaya di Pulau Jawa dari timur ke barat, menjadi sebaliknya yaitu dari barat ke timur. Hal itu berdasarkan temuan-temuan arkeologi yang menunjukkan bahwa Candi Bojongmenje lebih tua dibandingkan candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur atau paling tidak setara dengan candi tua di Dieng Jawa Tengah.

Penemuan Candi Bojongmenje tentu sangat membanggakan urang Sunda yang selama ini perannya dalam panggung sejarah percandian kurang terperhatikan. Bernert Kempers seorang pakar arkeologi dari Belanda juga hanya membagi masa klasik di Jawa menjadi masa klasik Jawa Tengah dan masa klasik Jawa Timur. Berdasarkan pembabakan itu, dikatakan bahwa masa klasik di Indonesia terbagi menjadi klasik tua untuk periode Jawa Tengah dan masa klasik muda untuk periode Jawa Timur.

Pendapat itu perlu ditinjau ulang karena tidak menyebut peran orang Sunda dalam sejarah bangnunan percandian. Padahal, bukti-bukti epigrafis menunjukkan bahwa di wilayah Tatar Sunda telah ada pusat kerajaan Hindu yaitu Tarumanagara. Di samping itu, perkembangan penelitian arkeologi di wilayah Tatar Sunda mulai muncul penemuan candi. Oleh karena itu, penemuan Candi Bojongmenje diharapkan akan membuka tabir percandian di Tatar Sunda menjadi lebih terang.

Melongok lokasi dimana Candi Bojongmenje berada, memang cukup memperhatikan. Untuk menuju lokasi candi ini mesti melewati sebuah gang sempit dengan tembok pagar pabrik yang menjulang tinggi. Tempat ditemukannya candi ini sendiri menempel dengan tembok pagar pembatas pabrik. Sehingga masih terdapat kendala jika ingin menggali lebih ke utara lagi, yang hal tersebut berarti butuh melakukan penggalian dihalaman area pabrik. Konon harga tanah disekitar candi ikut mengalami kenaikan hingga dua kali lipat. Nampaknya proses ekskavasi dan pembangunan kembali bangungan candi bakal masih jauh dari selesai.

Sumber:

Gambar: Pikiran Rakyat

Artikel: WikiPedia

Koleksi Foto Sekitar Stasiun Rancaekek

Ini adalah video KRD (Kereta Disel) yang berangkat dari Stasiun Kereta Rancaekek menuju Cicalengka, sumbangan dari hevifauzan:

YouTube Preview Image

Kerajinan Tas, Andalan Rancaekek

Kamis, 06 September 2007
KECAMATAN Rancaekek, Kab. Bandung yang lokasinya sekitar 43 Km dari pusat Pemkab Bandung menyimpan sejumlah potensi wilayah yang saat ini sedang dikembangkan dan dirintis warganya.

Seperti mengembangkan dan mempromosikan sebuah industri kerajinan tas yang bahan bakunya diambil dari limbah dan ranting pepohonan. Camat Rancaekek, Drs. H. Dadang Setiawan, M.Si. didampingi Sekretaris Kecamatan, Drs. Komarudin dan Kasi Pemberdayaan Masyarakat, Hj. Aam Amanah, S.Sos. mengatakan, kerajinan tas yang dihasilkan warga Komplek Bumi Rancaekek Kencana itu sempat dipamerkan dalam sebuah kegiatan menyambut Hari Jadi ke-366 Kab. Bandung, belum lama ini.

Kerajinan tas sebagai salah satu hasil karya terbaik warga Kec. Rancaekek, kata Dadang dengan nada bangga di ruang kerjanya, Jalan Raya Rancaekek, Senin (3/9). Menurutnya, dengan mengirimkan dan memamerkan produksi tas sebagai wakil dari Kec. Rancaekek, sempat mendapatkan perhatian dari Bupati Bandung, H. Obar Sobarna beserta istri, Ny. Iyan Obar Sobarna.

Bupati sempat menanyakan, ini kerajinan tas dari mana? Bahkan, beliau sempat mengatakan, kerajinan tas ini cukup bagus untuk dikembangkan. Dengan adanya kerajinan tas, katanya, sebagai wujud nyata adanya kreativitas dari warganya untuk mengembangkan kemampuannya dalam menyalurkan keahliannya. Namun dari hasil kerajinan tas itu, masih relatif minim dan baru digagas oleh seorang ibu rumah tangga bernama Ny. Yeti Hidayati di Kompleks Bumi Rancaekek Kencana.

Menurutnya, kerajinan tangan itu awalnya dikembangkan sendiri. Namun seiring perkembangan waktu dalam kerajinan itu, akhirnya sang penggagas awal melibatkan sejumlah orang terdekatnya. Yaitu, pada umumnya ibu rumah tangga yang sehari-harinya banyak meluangkan waktu.

Meski demikian, katanya, produksi tas yang dihasilkan sejumlah ibu-ibu rumah tangga itu dijadikan kerajinan unggulan warga setempat, termasuk produksi terbaik anak bangsa di Kab. Bandung. Karena itu, setiap ada pameran, produksi tas ini akan dijadikan andalan warga Kec. Rancaekek.

Disinggung apakah kerajinan itu bisa dipertahankan dan terus dikembangkan, ia mengatakan, jika didukung loyalitas dan permodalan yang cukup, mungkin bisa berkembang cukup bagus. Untuk saat ini kami akan membantu mereka dalam perizinan dan meminta izin dari Dinas Perindustrian Kab. Bandung. Karena untuk pengembangan home industry harus ada izin dari pemerintah terkait.

Peran pemerintah lainnya, katanya, yaitu melakukan pembinaan terhadap setiap perajin yang berkarya di bidangnya. Seperti berusaha memfasilitasi warga mengikuti pelatihan. Yang pelaksanaannya bekerja sama dengan Dinas Perindustrian Kab. Bandung.

Melalui pelatihan itu, selain untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) warga, juga diharapkan mereka bisa lebih profesional. Apalagi, katanya, dengan terbentuknya berbagai kesempatan warga untuk menciptakan lapangan kerja seperti itu, dapat menampung kesempatan warga yang menganggur untuk bekerja.

Kec. Rancaekek itu, meliputi 13 desa. Yakni, Desa Tegal Sumedang, Sukamanah, Rancaekek Wetan, Rancaekek Kulon, Bojongloa, Jelegong, Linggar, Sukamulya, Cangkuang, Tanjungmekar, Haurpugur, Sangiang, dan Bojongsalam.

Dari 13 desa itu dihuni 152.574 jiwa (13.094 kepala keluarga/KK), empat desa merupakan kawasan perumahan, yakni Desa Rancaekek Wetan, Rancaekek Kulon, Bojongsoa, Linggar, dan Desa Jelegong. Sedangkan sisanya adalah kawasan pertanian. Dari sekian banyak warga itu, terdapat 5.034 KK pra-KS dan KS-1. Sedangkan luas wilayah mencapai 4.604,37 ha.

Sumber : Harian Umum Galamedia Kamis,6 September 2007