Grup BBM

Ini adalah Group Barcode dari BBM Group Warga Rancaekek... ajang berbagi informasi sekitar Rancaekek... tercinta... Untuk bergabung dengan group ini:

  1. Buka BLACKBERRY MESSENGER pada BlackBerry Anda.

  2. lalu scroll ke bawah hingga menemukan BLACKBERRY GROUPS.

  3. Pilih SCAN A GROUP BARCODE

  4. Arahkan kamera ponsel BlackBerry Anda ke monitor [Gambar barcode di atas]

  5. Posisikan Barcode di tengah layar ponsel Anda, dan Anda otomatis bergabung.

Chat Dengan Pengurus
Rancaekek di Facebook
RancaEkek.Com on Facebook
Donasi Via Paypal
Klik tombol di bawah ini untuk memberi donasi melalui PayPal atau Kartu Kredit kepada kami:

Catatan:
Donasi yang diberikan bukan untuk kepentingan Kecamatan Rancaekek, namun hanya untuk kelangsungan hidup website ini. Terimakasih.
Jumlah Pengunjung
Pengunjung sejak oktober 2008 -- Rincian

Archive for the ‘Sekitar Rancaekek’ Category

Jalan Rancaekek-Majalaya Mengenaskan

RANCAEKEK,(GM)-
Kondisi Jalan Raya Rancaekek-Majalaya, Kab. Bandung hingga saat ini di beberapa titik benar-benar mengenaskan dan belum ada tanda-tanda akan diperbaiki. Kalau tetap dibiarkan, tidak menutup kemungkinan jalan yang penuh lubang tersebut akan kembali memakan korban jiwa. Sejumlah pihak berharap agar pihak berwenang segera memperbaiki ruas jalan yang rusak tersebut. Read the rest of this entry »

Rusak Berat, Ruas Jalan Raya Majalaya-Rancaekek

Setelah terus-menerus diterjang banjir dari luapan Sungai Citarum, sejumlah titik di ruas Jalan Raya Majalaya-Rancaekek, Desa Majasetra, Kec. Majalaya, Kab. Bandung rusak parah. Akibatnya, banyak kendaraan bermotor yang terperosok dan jatuh ke dalam kubangan lumpur di jalan tersebut.

Berdasarkan pemantauan, Senin (21/4), di ruas jalan yang rusak, sejumlah kendaraan roda dua maupun roda empat tampak antre dan berhati-hati ketika melewati ruas Jalan Raya Majalaya-Rancaekek, betulan Kp. Kamola, Desa Majasetra.

Pasalnya, ruas jalan sepanjang 400 meter itu berlubang dengan ukuran cukup lebar, dengan kedalaman rata-rata 20-30 cm. Akibatnya, banyak pengendara yang mengalami kecelakaan dan terperosok hingga ke selokan.

Camat Majalaya, Drs. Yiyin Sodikin didampingi Sekretaris Kec. Majalaya, Lili Sadeli, S.Pd. dan Kasi Perencanaan, Iis Herliamah, membenarkan sejumlah titik di ruas Jalan Raya Majalaya-Rancaekek rusak parah.  Bahkan, lanjut Yiyin, kerusakan tidak hanya pada ruas Jalan Raya Majalaya-Rancaekek, betulan Kantor Kec. Majalaya hingga batas jembatan, Kp. Kamola yang panjangnya mencapai 400 meter, tetapi juga di depan Pabrik Nirwana sepanjang 30 meter dan di pertigaan Jln. Kondang-Tengah, Desa Majalaya sepanjang 20 meter.

Karena kerusakannya cukup parah, kami mengharapkan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Kab. Bandung segera menanggulangi dan memperbaiki kerusakan tersebut, sebab menghambat arus lalu lintas. Selain itu, banyak pengemudi yang celaka, kata Yiyin di ruang kerjanya, kemarin.

Menurut Lili Sadeli, kerusakan jalan itu terjadi karena permukaan jalan kerap terendam banjir dari luapan Sungai Citarum. Karena itu, guna memperbaiki/menanggulangi kerusakan, fondasi jalan sepanjang ratusan meter itu harus dinaikkan antara 60-80 cm.

Selain dinaikkan, pembangunan jalannya pun harus dibeton. Sebab, jika masih saja dibangun dengan jalan hotmix, tidak akan bertahan lama. Jalan tersebut sempat diperbaiki beberapa kali dengan kualitas jalan hotmix yang cukup bagus, ternyata mudah terkelupas oleh air ketika banjir. Jalan di lokasi itu, katanya, mudah terendam air. Selain itu, selokan jalan juga dangkal dan tertutup lumpur. Seperti di pertigaan Jln. Kondang Tengah-Majalaya.

Sumber : Harian Umum Galamedia, Selasa 22 April 2008

Jalan Rancaekek Bandung Rusak Berat Tergerus Banjir

Bandung,  Sejumlah ruas jalan di kawasan Rancaekek dan Baleendah Kabupaten Bandung rusak berat akibat tergerus banjir luapan sungai Citarum dan beberapa anak sungai.

Kerusakan terparah terjadi di jalan Raya Dangdeur Rancaekek. Sekitar dua kilometer jalan raya yang mengakses ke jalan utama Cicalengka – Cileunyi – Bandung itu bolong-bolong dengan kedalaman hingga 50 centimeter.

“Lubangnya hampir seperti kubangan bahkan kolam ukuran kecil, dalamnya mencapai 50 centimeter. Jalan itu tergenang dalam beberapa hari ini kondisinya sangat parah,” kata Suherman (45) warga Dangdeur Rancaekek, Kamis.

Jalan berlapis aspal itu berubah menjadi kubangan dan lubang-lubang cukup dalam sehingga sulit dilintasi oleh kendaraan ukuran kecil dan membahayakan pengendara sepeda motor pada malam hari.

“Hampir setiap jam ada pengendara sepeda motor yang jatuh, terutama malam hari. Bahkan pada saat tergenang korban yang jatuh terpaksa harus berguling di kubangan air berlumpur pekat itu,” kata Suherman.

Akibat jalan yang rusak berat itu, hampir sepanjang hari terjadi antrean kendaraan yang cukup panjang. Para pegendara mengurangi laju kendaraanya untuk memilih jalan, terkadang harus saling membagi jalur sehingga menghambat arus lalu lintas di sana.

Warga berharap pemerintah dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bandung untuk melakukan perbaikan jalan kabupaten itu.

“Karena setiap tahun selalu digenang banjir, kami berharap diganti dengan beton. Bila diperbaiki dengan aspal tidak akan tahan lama karena selalu tergenang,” kata Saefudin, salah seorang perangkat desa setempat.

Jalan yang rusak akibat tergerus banjir juga terjadi di Baleendah Kabupaten Bandung dan di sejumlah titik di Jalan Mochamad Toha Dayeuhkolot.

Selain itu juga diperparah dengan pembangunan pabrik yang tidak memperhatikan dampak lingkungan terutama pada musim penghujan. Salah satu contohnya di Jalan Laswi di Kelurahan Jelekong Kecamatan Baleendah, genangan diakibatkan pembuatan pabrik furniture sehingga menghalangi pembuangan air.

Sementara itu, jalan-jalan rawan banjir yang telah dilapisi beton saat ini kondisinya cukup baik. Meski tergenang banjir, namun permukaan jalannya cukup kuat, bahkan sebagian ditinggikan sehingga tidak lagi tergenang banjir.

Sejumlah jalan raya di Kabupaten Bandung terendam banjir pada musim hujan saat ini antara lain di Baleendah, Majalaya, Bohjongsoang, Cikancung dan Rancaekek.

Bahkan beberapa hari lalu, akses jalan di Baleendah, Bojongsoang, Margahayu dan Rancaekek terputus akibat genangan banjir di jalan cukup tinggi sehingga tidak bisa dilintasi kendaraan bermotor, khususnya yang berukuran kecil. (ant)

Sumber: Sinar Harapan

Papan Reklame Roboh, Macetkan Jalur Rancaekek

SOREANG, (PRLM).- Papan reklame di jembatan penyebrangan di Jalan Raya Rancaekek, tepatnya di depan PT Kahatex, roboh melintang di jalan. Robohnya reklame “Djarum Super” yang berukuran 4 x 10 meter ini, akibat hujan deran disertai angin kencang, Minggu (11/4) pukul 14.00 WIB.

Tidak ada korban jiwa dari kejadian tersebut, namun menyebabkan kemacetan total di jalur itu hingga lebih 2 km, baik dari arah Garut-Tasikmalaya ke Bandung, maupun dari arah Bandung ke Garut-Tasiklmalaya.

Kasatlantas Polres Bandung, AKP Edwin Afandi mengatakan, dibutuhkan sistem buka tutup untuk mengurai kemacetan. Karena posisi robohnya reklame melintang di jalan. “Dari petugas reklame belum ada yang bertanggung jawab untuk membenahi reklame yang roboh. Sehingga untuk menangani ini pihak kepolisian mendatangkan pekerja konstruksi serta unit forklift,” katanya. (CA-07/das)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Rusak Berat, Jalan Rancaekek-Majalaya

SOREANG, (PR).-
Kondisi jalan raya Rancaekek-Majalaya Kab. Bandung, terutama di depan Pasar Dangdeur dan Pasar Wahana Karya Rancaekek, rusak berat. Di pagi hari, keadaan itu diperparah oleh keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang menyita badan jalan.

“Kami berulangkali menertibkan keberadaan PKL ini. Namun, setelah tidak diawasi, mereka kembali berjualan di tempat asalnya,” kata Pelaksana Tugas (Plt.) Camat Rancaekek, Meman Nurjaman, Minggu (2/5)

Kapolsek Rancaekek Ajun Komisaris Polisi Mulyadi, saat ditemui di kantornya Senin (4/5), mengakui, kehadiran PKL itu sering menimbulkan kemacetan di ruas jalan Rancaekek-Majalaya. “Kami selalu berupaya ikut menertibkan keberadaan PKL di depan Pasar Dangdeur. Tetapi setelah itu, keesokan harinya mereka kembali berjualan bahkan sampai menyita sebagian badan jalan,” ujarnya.

Untuk mengatasi kemacetan, terutama pada saat terjadi banjir, truk-truk dari arah Majalaya yang akan menuju Rancaekek, tidak diperbolehkan masuk. “Selain itu, jika diperbolehkan masuk, air yang tergenang di jalan, nantinya masuk ke dalam rumah-rumah penduduk yang berada di pinggir jalan,” ujarnya menjelaskan.

Mengenai perbaikan jalan rusak, Meman mengatakan, jalan antara Pasar Dangdeur dan Pasar Wahana Karya akan diperbaiki tahun ini. “Pemkab telah merencanakan untuk segera memperbaiki jalan ini,” ujarnya.

Menurut Ujang (24), salah seorang pedagang di Pasar Wahana Karya, kerusakan jalan itu terjadi sejak tiga bulan lalu. Jalan itu sering tergenang banjir dan dilewati truk-truk besar. (A-72)***

Sumber: PikiranRakyat

Banjir di Depan kantor Rancaekek.Com

BajirTrimedia

Jadwal Imsakiyah & Waktu Shalat Ramadhan 1430 H, Untuk wilayahRancaekek & sekitarnya

Silahkan Klik kanan pada tabel di bawah ini, lalu pilih: “Save Image As” (Firefox) untuk mendownload jadwal,

Imsak1430H_bim.web.id

Seni Beladiri Benjang

Asal Usul
Di Kabupaten Bandung, khususnya di Kecamatan Ujungberung, Cibolerang, Cibiru, Cinunuk, Cileunyi dan Rancaekek, ada sebuah seni bela diri yang disebut “Benjang”. Konon, seni bela diri benjang berawal dari kesenian terbangan yang sering dimainkan oleh para santri yang ada di pondok pesantren. Dari pondok pesantren, kesenian terbangan ini menyebar ke masyarakat sekitarnya melalui upacara tradisional, seperti: selamatan kelahiran bayi, panen padi, maulid nabi, khitanan, dan perkawinan.

Ketika sedang bermain terbangan itu, sambil bernyanyi, terkadang mereka melakukan gerakan-gerakan saling mendorong. Gerakan mendorong yang diiringi musik terbangan itu kemudian menjelma menjadi suatu kesenian baru yang dinamakan “Dogong”. Pada kesenian dogong ini, para pemainnya akan saling mendorong dengan mempergunakan alu (alat penumbuk padi yang terbuat dari kayu).

Permainan dogong berkembang lagi menjadi suatu permainan saling mendesak tanpa menggunakan alat. Permainan baru ini disebut “Seredan”. Kemudian, permainan seredan berkembang lagi menjadi suatu permainan saling mendesak dengan pundak tanpa menggunakan alat maupun tangan. Permainan mendesak lawan hingga keluar arena ini disebut dengan “Adu Mundur”. Namun, karena dalam permainan ini sering terjadi pelanggaran, maka adu mundur diganti menjadi “Adu Munding”. Dalam permainan adu munding, pemain tidak lagi mendorong dengan menggunakan pundak, melainkan mendorong dengan cara membungkuk (merangkak) dan mendesak lawan dengan kepala, seperti seekor munding (kerbau) yang sedang bertarung.

Lama-kelamaan, seiring dengan makin banyaknya gerakan-gerakan atau teknik untuk menjatuhkan lawan, maka adu munding pun berkembang lagi menjadi suatu permainan yang saat ini disebut sebagai benjang. Dalam permainan benjang, semua unsur dari permainan sebelumnya (terbangan, dogong, seredan, adu mundur, dan adu munding) diramu menjadi satu. Namun, tidak semua gerakan dalam permainan sebelumnya juga dipakai dalam permainan benjang. Misalnya, gerakan atau teknik mendesak lawan dengan kepala yang dianggap cukup berbahanya, sudah jarang sekali digunakan oleh seorang pemain benjang (tukang benjang).

Pemain
Permainan benjang umumnya dilakukan oleh laki-laki remaja dan dewasa. Walaupun demikian, orang yang telah berusia lanjut pun diperbolehkan, asalkan atas kemauannya sendiri. Para pemain benjang biasanya tergabung dalam sebuah kelompok yang berasal dari satu perguruan. Setiap kelompok benjang jumlah anggotanya antara 20–25 orang, yang terdiri atas: satu orang pemimpin, 9 orang penabuh dan sisanya pemain. Selain pemain, dalam permainan benjang juga ada wasit yang bertugas mengawasi jalannya pertandingan dan menetapkan pemenang.

Sebagai catatan, untuk menjadi pemain benjang (tukang benjang) dituntut keberanian. Dalam permainan benjang tidak ada penimbangan badan terlebih dahulu dan tidak ada batas waktu permainan. Jadi, seseorang yang berbadan kecil dan kurus, apabila ia berani, dapat saja bertanding dengan orang yang bertubuh besar dan tinggi. Dan, apabila fisiknya masih kuat, para pemain akan tetap bermain hingga ada salah satu yang kalah.

Tempat dan Peralatan Permainan
Permainan benjang biasa dilakukan di tempat terbuka seperti halaman rumah atau lapangan pada pagi atau malam hari. Apabila permainan dilakukan pada pagi hari, umumnya dimulai sekitar pukul 07.00 sampai dengan pukul 09.00. Sedangkan, apabila dilakukan pada malam hari biasanya dimulai dari pukul 20.00 hingga pukul 24.00.

Peralatan yang digunakan dalam permainan benjang adalah: (1) seperangkat waditra yang terdiri dari: sebuah gendang besar, sebuah kulanter, empat buah terbang, kecrek, terompet, sebuah bedug, pingprung, kempring, kempul; (2) busana pemain yang terdiri dari: celana kolor dan kaus kutang (untuk pemain), pakaian silat (untuk pemimpin), baju kampret, celana pangsi, dan ikat kepala dari kain batik (untuk penabuh); dan (3) sesajen yang terdiri dari: kelapa muda, telur ayam, beras, minyak kelapa, cerutu, air kopi, rujak (pisang, kelapa, asem, gula merah), arang, dan kemenyan yang ditaruh di dalam pakuruyan1.

Aturan Permainan
Aturan permainan benjang tergolong sederhana, yaitu apabila seorang pemain berada dalam posisi terlentang dan ditindih oleh lawan mainnya, maka ia dinyatakan kalah. Sedangkan, orang yang menindihnya dinyatakan menang.

Selain aturan kalah-menang, ada aturan-aturan lain yang harus ditaati oleh setiap pemain, yaitu: tidak boleh mencolok mata, mencekik, menggigit, “mengambil” kaki lawan dan lain sebagainya yang dianggap dapat membahayakan lawan.

Jalannya Permainan
Permainan benjang diawali dengan pembacaan doa atau mantra yang dilakukan oleh pemimpin kelompok. Sambil bersila dan membaca doa, di depan pemimpin tersebut disediakan sesajen dan dibakarkan kemenyan. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar selama pertunjukan berlangsung para pemain maupun penonton terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Selesai membacakan doa atau mantra barulah alat pengiring ditabuh sebagai tanda dimulainya permainan benjang. Selanjutnya, para pemain akan masuk ke dalam arena sambil ngibing (menari) dengan mengenakan kain sarung. Setelah selesai menari dan telah saling berhadapan, mereka akan membuka kain sarungnya masing-masing hingga tinggal mengenakan celana pendek saja.

Selanjutnya, penabuh akan mulai memainkan waditranya dengan irama bamplang, yaitu semacam irama padungdung dalam pencak silat. Irama bamplang ini merupakan tanda bagi para pemain untuk segera memulai permainan. Para pemain kemudian akan mulai menyerang lawannya dengan menggunakan seluruh teknik yang dikuasainya, seperti: (1) nyentok (menghentakkan kepala); (2) ngabeulit gigir, hareup dan bakun; (3) dobelson; (4) engkel mati; (5) angkat; (6) dengkekan; (7) hapsay (ngagebot) dan lain sebagainya.

Apabila dalam permainan tersebut seseorang dapat mengunci hingga lawannya berada di bawah dengan posisi terlentang, maka wasit akan segera menghentikan pertandingan, dan si pengunci dinyatakan sebagai pemenangnya.

Nilai Budaya
Benjang, sebagai suatu seni bela diri yang tumbuh dan berkembang di Jawa Barat, jika dicermati mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain: kesehatan, kerja keras, kedisiplinan, kepercayaan diri, dan sportivitas.

Nilai kesehatan tercermin dari gerakan atau teknik-teknik yang dilakukan, baik ketika sedang berlatih maupun bertanding. Dalam hal ini, gerakan-gerakan dalam bermain benjang harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga otot-otot tubuh akan menjadi kuat dan aliran darah pun menjadi lancar. Ini akan membuat tubuh menjadi kuat dan sehat.

Nilai kerja keras tercermin dari usaha untuk menguasai teknik-teknik yang ada dalam seni bela diri benjang. Tanpa kerja keras mustahil teknik-teknik tersebut dapat dikuasai secara sempurna.

Mempelajari seni bela diri benjang juga memerlukan kedisiplinan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap aturan-aturan perguruan. Tanpa kedisiplinan diri dan taat serta patuh kepada aturan-aturan perguran, akan sulit bagi seseorang untuk menguasai seni bela diri ini secara sempurna.

Mempelajari seni bela diri benjang, sebagaimana seni bela diri lainnya, berarti mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, baik demi keselamatan dirinya maupun orang lain yang memerlukan pertolongannya. Dengan menguasai benjang seseorang akan menjadi percaya diri dan karenanya tidak takut gangguan dan atau ancaman dari pihak lain.

Untuk “mengasah” ilmu benjang setiap muridnya, sebuah perguruan seni bela diri pada umumnya mengadakan latih-tanding dan pertandingan. Dalam latih-tanding atau pertandingan tersebut tentu diperlukan adanya sikap dan perilaku yang sportif dari para pelakunya, sebab akan ada yang kalah dan menang. Nilai sportivitas tercermin dari pemain yang kalah akan mengakui keunggulan lawan dan menerimanya dengan lapang dada. (pepeng)

Sumber: Blog Uun Salimah
Foto: Pikiran Rakyat

Kemacetan di Rancaekek Menjengkelkan

Redaksi, Yth.

SETIAP Sabtu sore, sekali dalam dua minggu, merupakan hari yang sangat mengesalkan dan menyesakkan dada bagi pengguna jalan negara ruas Jln. Rancaekek-Cicalengka, khususnya di depan pabrik PT Kahatex.

Pada hari itu, ribuan buruh Kahatex baru saja menerima gajinya. Sebagian di antaranya membelanjakan uang hasil kerjanya tidak di pasar resmi, tapi di pasar kaget yang beroperasi di pinggir jalan tersebut. Akibatnya, lebar jalan yang semestinya bisa 3-4 jalur, habis oleh pedagang dan pembeli. Yang tersisa hanya satu jalur saja.

Akibatnya, kemacetan panjang terjadi di kawasan tersebut. Terlebih pada hari dan jam tersebut lalu lintas sangat ramai, karena saat itu tidak sedikit pengendara yang baru pulang kerja dari wilayah Bandung dan sekitarnya, dan banyak pula kendaraan yang menuju arah selatan. Kemacetan diperparah oleh banyaknya mobil angkutan yang mengangkut karyawan, parkir di pinggir jalan raya tersebut.

Kondisi tersebut sudah berlangsung lama dan berada pada pantauan langsung pihak kepolisian. Sangat memprihatinkan memang karena pejabat pemerintah yang bertanggung jawab akan hal ini sepertinya tidak peduli pada keadaan ini. Tentunya sebagian rakyat yang taat membayar pajak tidak merasakan manfaat dan timbal balik dari pajak yang dibayar. Bahkan cenderung tidak merasakan adanya fungsi dan peran pemerintah yang peduli pada kenyamanan dan kepuasan rakyatnya. Sangatlah tidak mungkin kalau para birokrat terkait tidak tahu keadaan ini.

Kepada Redaksi HU Galamedia, terima kasih atas dimuatnya surat pembaca ini.

Drs. Asep Sulana
Koordinator Lembaga Swadaya Masyarakat
Al-Ma’soem Peduli Umat (MAMPU)
Jalan Raya Cileunyi-Rancaekek No. 22 Bandung

Sumber: Galamedia

Ratusan Kios Pasar Cileunyi Ludes Terbakar

BANDUNG, (PRLM).- Ratusan kios di pasar tradisional Cileunyi, Kabupaten Bandung, habis terbakar pada peristiwa kebakaran yang terjadi Kamis (18/6) sore sekitar pukul 15.30 WIB. Tidak ada korban jiwa pada peristiwa kebakaran tersebut, namun kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

Menurut saksi Canang (42) yang juga pemilik kios sayuran, pada kejadian tersebut para pemilik kios sudah tidak ada di tempat karena pasar sudah tutup. “Kebetulan saya masih di sini sedang membereskan dagangan, mau pulang. Tiba-tiba dari kios bagian depan muncul percikan api, yang cepat menjalar karena ada angin kencang. Dalam waktu sekitar 15 menit ratusan kios habis terbakar. Kios di sini terbuat dari kayu dan bilik bambu sehingga cepat terbakar,” katanya.

Engkus, saksi yang juga pemilik kios yang terbakar mengatakan, kebakaran kali ini merupakan yang keempat kalinya terjadi di pasar tradisional Cileunyi ini. “Terakhir pada tahun 2003, saat Lebaran Kurban,” katanya.

Menurut Kapolres Bandung, AKBP Imron Yunus, yang dihubungi melalaui telepon selularnya, Kamis sore, penyebab kebakaran belum bisa dipastikan karena perlu penyelidikan. Kebakaran ini membuat jalur lalu lintas Jalan Raya Cileunyi, baik dari arah barat maupun timur macet total sekitar satu setengah jam. Api baru baru bisa dipadamkan satu jam setelah kemudian setelah datang 13 unit damkar dari Kota dan Kab. Bandung,” jelasnya. (A-72/das)***

Sumber: PikiranRakyat