Statistik Kunjungan
Total kunjungan sebanyak:
kunjungan sejak 2008.
Untuk melihat rincian kunjungan, silahkan klik di sini.

Anak-anak

Membangun Pondasi Kepribadian Anak

Biarkan anak-anak tumbuh pada realitas yang semestinya dengan bimbingan kita, orang tuanya. Kita rawat dan didik mereka dengan kasih sayang, dengan memilihkan lingkungan dan sekolah yang mendukung misi kita dalam mendidik anak. Di era sekarang ini, tantangan yang dihadapi oleh para orang tua semakin berat. Serbuan informasi yang membanjir melalui berbagai media yang sangat mudah diakses. Jika informasi tersebut diakses secara terbimbing akan memberikan dampak positif dengan semakin luasnya wawasan yang akan diperoleh anak. Namun jika dibiarkan tanpa kontrol, akan memberikan ekses negatif yang tidak mudah untuk dipulihkan.
Anak-anak sekarang sangat berbeda dengan anak-anak di masa kecil kita. Dulu di zaman kita, apa-apa yang dikatakan oleh orang tua, tidak akan terbantahkan. Artinya, anak-anak tidak berani membantah. Tetapi anak-anak sekarang sangat cerdas. Tidak mudah menjadikan anak-anak kita menaati kita kalau kita tidak mampu memberikan pengertian yang bisa dipahami anak. Kita tidak bisa jika hanya sekadar melarang atau memerintahkan sesuatu kalau tanpa penjelasan mengapa harus begini atau begitu. Dan itu adalah tantangan dan tugas berat kita.
Lalu bagaimana seharusnya kita mendidik anak-anak kita? Apakah anak-anak harus kita isolasi secara total dari media, televisi khususnya, atau bagaimana? Haruskah kita menimbang antara apakah anak-anak kita akan disterilkan dari lingkungan yang akan memberikan pengaruh yang tidak baik terhadap mereka, ataukah kita paparkan sekalian dalam kenyataan yang ada dengan konsekuensi bagi kita orang tuanya untuk bekerja lebih keras dalam membimbing mereka. Jika kita sterilkan, anak-anak akan kesulitan jika menghadapi realitas dalam lingkungan mereka kelak.
Menghadapi realitas, mau tidak mau harus kita lakukan. Biarkan anak-anak tumbuh pada realitas yang semestinya dengan bimbingan kita sebagai orang tuanya. Kita rawat dan didik mereka dengan kasih sayang, dengan memilihkan lingkungan dan sekolah yang mendukung misi kita dalam mendidik anak. Namun hal yang harus senantiasa kita ingat bahwa tanggung jawab pendidikan anak tetap berada di tangan kita. Sekolah hanya bersifat membantu. Sebab orang tualah yang nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt. tentang pendidikan anak-anaknya.
Rasulullah saw. menunjukkan kepada kita bagaimana membangun kepribadian anak agar menjadi baik:
1. Mengokohkan Bangunan Keyakinan

Rasulullah saw. mengawali pembentukan kepribadian para sahabat dengan menanamkan bangunan keyakinan baru secara kokoh. Keimanan akan ke-MahaKuasa-an Allah, keyakinan akan kebenaran Islam, dan kerinduan yang sangat besar terhadap jannah. Keyakinan semacam inilah yang membentuk orientasi dan wawasan hidup para shahabat.
Untuk itulah diperlukan upaya yang terus-menerus untuk menyegarkan dan mengokohkan bangunan keyakinan ini terhadap anak-anak kita. Tentu saja sarana-sarana pembelajaran yang dilakukan disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan anak.

Selain itu, pengenalan terhadap Rasulullah juga harus dilakukan sejak dini. Agar tumbuh dalam diri anak kecintaan terhadap Rasulullah. Dengan begitu, maka anak akan mudah diarahkan untuk meneladani apa-apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw.

Sarana yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai tujuan itu sangat banyak. Dengan nyanyian, cerita, atau permainan. Sedangkan sarana-sarana audiovisual yang ada bisa dimanfaatkan secara optimal. Sedang untuk anak-anak yang sudah bisa diajak berdialog, maka sarana diskusi bisa dimaksimalkan. Pada waktu-waktu tertentu anak bisa diajak untuk tafakur alam, untuk melihat secara langsung kebesaran dan kekuasaan Allah swt.
2. Mendekatkan Interaksi dengan Al-Qur’an

Kunci kedua adalah kuatnya interaksi dengan Al-Qur’an. Sebagaimana kita pahami bersama, dinamika kehidupan Rasulullah bersama sahabat-sahabatnya berjalan beriringan dengan turunnya ayat-ayat Al-Qur’an.
Saat ini, interaksi dengan Al-Qur’an bukan sebatas aspek tilawah, hafalan dan pemahaman. Tetapi lebih penting pada sisi pengamalan Islam dan dakwah yang terus mengacu pada bimbingan Al-Qur’an. Sepatutnyalah kita mendidik dan melatih anak-anak kita untuk melaksanakan aktivitas hariannya dengan acuan Al-Qur’an serta berusaha menemukan jawaban atas persoalan-persoalan hariannya dalam Al-Qur’an.
3. Membimbing kepada Penerapan Amal

Islam adalah diinul ‘amal. Artinya bahwa Islam mengedepankan kebaikan amal sebagai bukti dari keimanan dan pemahaman. Selanjutnya, penerapan amal justru akan mempercepat dan memperkokoh bangunan keimanan dan pemahaman terhadap Islam. Tentu saja semua ini dilakukan dengan menjaga agar setiap amal yang dilakukan dilandasi oleh keikhlasan dan pemahaman.
Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam mendidik umatnya. Mereka menjadi qaumun ‘amaliyyun atau orang yang senantiasa beramal. Tidak sekedar pandai berbicara tetapi juga mampu mengamalkan. Itulah yang disebut orang-orang yang memiliki integritas pribadi.
“Dan katakanlah: ‘Beramallah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya beserta orang-orang mukmin akan melihat amalmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan'” ( Q.S. At-Taubah/9: 105).
Pendidikan yang kita lakukan pada anak-anak kita bukanlah sekedar untuk memberikan pelajaran atau ilmu semata, tetapi sebagai bekal anak agar mereka bisa mengamalkan ilmu mereka. Contohnya dalam mengajarkan shalat. Kita latih anak untuk melaksanakan shalat sejak dini, seiring dengan penjelasan yang kita berikan tentang hal ikhwal shalat yang disesuaikan dengan tingkat penerimaan dan pemahaman mereka. Contoh lain adalah tentang pemakaian jilbab bagi anak-anak puteri. Kita latih mereka untuk senantiasa berjilbab ketika keluar rumah sedini mungkin, juga seiring dengan penjelasan mengapa harus berjilbab sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.
4. Mengedepankan Keteladanan dan Kepemimpinan yang Baik

Perilaku dan amal para pendidik, terlebih orang tua adalah cerminan dari pemahamannya. Mereka adalah teladan dalam pembicaraan dan amalan. Maka kunci keberhasilan dalam mendidik anak adalah ketika para pendidik mampu menerapkan syiar “ashlih nafsaka, wad’u ghairaka” (perbaiki dirimu, kemudian serulah orang lain). Inti dari syiar itu adalah keteladanan pendidik. Misalnya dalam tataran memerintah, maka yang mesti dipakai adalah kata mengajak daripada kata menyuruh. Apa perbedaan kedua kata tersebut? Kata menyuruh mengandung makna tidak adanya keterlibatan si pemberi perintah. Sementara kata mengajak, si pemberi perintah juga ikut terlibat atau melaksanakan apa yang diperintahkan.
Rasulullah saw. telah menampilkan keteladanan ini dalam dirinya. Sungguh, beliau adalah teladan sempurna bagi manusia. Dengan cara inilah Rasulullah sukses mengader sahabat-sahabatnya. Islam menampilkan keteladanan sebagai sarana dakwah dan tarbiyah yang paling efektif. Sehingga Islam menetapkan sistem pendidikan yang kontinyu atas dasar prinsip keteladanan tersebut.
Dengan mengacu apa yang telah dilakukan Rasulullah saw. dalam mendidik putra-putri beliau serta para sahabat, insya Allah anak-anak kita memiliki kepribadian yang kokoh serta kepercayaan diri yang kuat, yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an.
Semoga dengan kasih sayang, bimbingan, dan keteladanan kita, mampu menjadikan mereka sebagai anak-anak shaleh yang akan eksis pada zamannya serta mempu menyumbangkan potensi mereka untuk kembali meraih kejayaan Islam sebagaimana yang telah diraih oleh para salafus shaleh terdahulu.

Penulis adalah orang tua siswa SMPIT Nur Hidayah dan aktivis dakwah.

Hati-Hati Dengan Ucapan Kita pada si Kecil

Kata orang bijak, apa yang kita masukkan ke dalam mulut itu seringkali tidak lebih berbahaya ketimbang apa yang kita keluarkan. Yang keluar dari mulut kita bisa menusuk perasaan. Bahkan, kalau terhadap anak kecil (balita), apa yang keluar dari mulut kita bisa membentuk kepribadian.

Sayangnya, orangtua sering kurang menyadari apakah ucapannya selama ini lebih merupakan ekspresi perasaan (expressing) atau justru berupa penyerangan (attacking). Seringkali orang tua juga kurang menyadari apakah ucapannya lebih sering berupa hasil penilaian objektif (fair dan membangun) atau hanya berupa pujian yang menipu.

Ekspresi berarti kita menyatakan ketidaksetujuan kita pada anak dengan bahasa / gaya yang menyadarkan anak (emphatic way). Sedangkan kalau attacking itu kita menyerang kepribadian anak dengan kata-kata yang menjatuhkan atau menegatifkan.

Penilaian juga begitu. Menilai itu artinya kita melihat anak dari sisi anaknya. Apa yang kurang kita perbaiki dan apa yang sudah baik kita kasih reward (pujian, hadiah, dst). Ini beda dengan pujian yang menipu. Karena kita nggak mau susah, atau supaya anak kita ”senang” dan tidak rewel, lalu kita puji-puji dia.

Antara Over & Minder
Studi para ahli, seperti dikutip Prof. Quraish Shihab (Lentera Hati: 1994), mengungkap, sebagian besar penyebab kekurangan dan kehebatan orang dewasa itu terkait pada masa kecil. Berbagai temuan lain pun mengungkap yang sama.

Anak yang sering kita serang kepribadiannya dengan ucapan yang menjatuhkan, akan berpotensi punya konsep-diri rendah, seperti minder atau mudah merasa saya tidak bisa. Sebaliknya, anak yang sering kita puji tanpa alasan atau dengan alasan yang sangat subyektif akan berpotensi over (kurang tahu dirinya).

Baik over dan minde, keduanya adalah kekurangan. Bahkan jika kekurangan itu sudah mengakumulasi sedemikian mendalam, akan mungkin membentuk bawaan (trait) yang sulit diubah. Kasihan kan anak kita?

Fokus Pada Tindakan
Bagaimana supaya kita tidak kebablasan melontarkan kata-kata yang dapat menyerang kepribadian atau memberikan pujian yang terlalu subjektif? Syaratnya adalah latihan memfokuskan ucapan hanya untuk mengomentari tindakannya, bukan orangnya.

Katakanlah si Kecil ogah mandi karena lagi enak-enaknya nonton. Kalau kita tidak fokus pada tindakannya supaya mau mandi, biasanya kita tergoda untuk melontarkan ucapan yang merembet kemana-mana, misalnya mengatakan pemalas, selalu menentang orangtua, dan seterusnya.

Begitu juga dengan menilai si anak. Sejauh dasarnya bukan tindakan atau perkembangan nyata, maka pujian yang kita berikan itu sama sekali tidak membentuk self-esteem (harga-diri positif). Mungkin itu dapat disebut pujian semu. Semoga bisa kita jalankan.

Sumber: SahabatNestle

Batasan Hukuman Anak

Menghukum anak merupakan salah satu cara agar anak Anda lebih disiplin. Tip-tip berikut ini bisa membantu Anda menerapkan hukuman. Bagaimana cara Anda menentukan batasan dan menerapkan hukuman? Simak tip berikut.

JANGAN MENYUAP
Boleh saja memberi imbalan kepada anak atas sikapnya yang baik (misalnya memberikan hadiah stiker kepada anak karena telah bersikap baik di restoran). Hal itu menegaskan bahwa ia perlu bersikap baik pada kesempatan lainnya. Tapi, jangan menyuap atau memberi imbalan jika anak sedang berulah. “Jangan pernah mengatakan kepada anak akan membelikan sesuatu jika dia berhenti menangis,” kata Maureen O’Brien, Ph.D, spesialis perkembangan anak di Boston. “Dia akan belajar dengan cepat bahwa dengan sedikit berulah, ia bisa mendapatkan perhatian ibunya dan sebuah boneka Barbie baru.”

KONSISTEN
Putuskan perbuatan apa saja yang dilarang di rumah, misalnya seenaknya memberi julukan kepada orang dan berbohong, kemudian pikirkan hukuman yang tepat dan adil setiap kali anak Anda melanggar aturan itu. Pastikan suami Anda dan pengasuh anak menyetujui metode Anda dalam mendisiplinkan anak.

JANGAN MENDIAMKAN
Teknik ini kadang kala kita berlakukan kepada pasangan kita, namun jangan pernah terhadap anak-anak. Pertama, perbuatan itu memuat pesan: rasa sayang dan perhatian Anda bisa berubah dan saat anak Anda berulah, Anda memutuskan rasa sayang dan perhatian Anda. Kedua, banyak anak yang juga sama marahnya dengan Anda, merasa lebih suka Anda meninggalkan mereka. Pendekatan yang lebih baik adalah memberitahu anak bahwa Anda perlu menenangkan diri dan memikirkan hukuman yang tepat untuknya.

JELASKAN KEINGINAN ANDA
Anda harus menjelaskan, bagaimana Anda mengharapkan anak-anak berperilaku pada situasi tertentu. Misalnya, jika Anda pergi ke taman, Anda bisa menyatakan bahwa mereka boleh bemain di dalam taman tapi tidak boleh di area parkir. Mereka boleh bermain seluncuran, tapi tidak boleh dengan kepala duluan. Bicarakan hal ini sebelum memulai aktivitas dan katakan apa hukumannya jika mereka tidak menaati kata-kata Anda.

JANGAN MENGHUKUM BERLEBIHAN
Anak-anak belajar dari kesalahan dan mereka tidak semestinya dihukum setiap kali melakukan kesalahan. “Simpan hukuman itu untuk saat dimana anak Anda bena-benar membangkang dengan sengaja,” kata Dr. Peters. “Dengan memberikannya hukuman yang adil bagi perilaku buruknya, Anda mengajarinya membuat pilihan – yang merupakan inti kehidupan.”

Parents Indonesia

Menyiapkan Biaya Kuliah si Kecil

Jika saat ini Anda memiliki anak yang berusia 1 tahun, jangan kaget bahwa total biaya pendidikannya hingga 18 tahun mendatang, dari SD sampai Perguruan Tinggi, bisa mencapai Rp 1 miliar. Sungguh, kami tidak bergurau!

Menurut Ligwina Hananto MBA, konsultan keuangan Quantum Magna Financial, biaya pendidikan rata-rata naik sekitar 20% per tahun. Belum lagi laju inflasi di Indonesia. “Inflasi untuk sekolah swasta di Indonesia sekitar 20% per tahun, dan 15% per tahun untuk universitas di Indonesia,” tambah Ligwina.

Sebagai gambaran, bila inflasi diestimasikan sekitar 6% per tahun, maka dalam 9 tahun saja, total inflasi menjadi sebesar 54%. Jika saat ini biaya kuliah per semester di universitas negeri Rp 5 juta dengan uang pangkal sekitar Rp 20 juta, maka biaya kuliah yang harus Anda persiapkan untuk tahun 2017 menjadi sekitar Rp 107,8 juta (dengan perhitungan future value). Jika biaya buku perkuliahan dan alat tulis sekitar Rp 5 juta per semester, maka tambahkan lagi angka Rp 77 juta untuk biaya buku selama 10 semester. Belum lagi ongkos transportasi, uang makan, dan biaya hidup jika anak bersekolah di kota lain atau tinggal sendiri, anggap saja sekitar Rp 3,5 juta per bulan dan Anda mendapatkan perkiraan biaya hidup Rp 210 juta. Maka, total biaya untuk menyekolahkan si kecil di tahun 2017 menjadi Rp 400 juta. Itu berarti Anda perlu menyisihkan uang Rp 3,7 juta per bulan hingga 9 tahun ke depan! Dan, perhitungan ini hanya berlaku jika si kecil diterima di Perguruan Tinggi Negeri.

Jika Anda berencana menyekolahkannya di Perguruan Tinggi Swasta, angkanya bisa menjadi dua kali lipat. Membayangkan angka yang demikian fantastis, Anda mungkin merasa pesimis bagaimana bisa membiayai kuliah si kecil kelak, bila saat ini saja tagihan kartu kredit Anda sudah menumpuk di meja. Untuk mendapatkan solusinya, kami bertanya kepada perencana keuangan keluarga untuk membantu Anda. Ini yang perlu Anda ketahui. Menghitung biaya pendidikan.

Menurut Rina N. Sandy, RFA dari Sarosa Consulting Group, ada tiga langkah utama yang perlu Anda ketahui secara pasti. “Langkah pertama adalah menentukan pilihan,” ujar Rina. Pilihan di sini haruslah spesifik, Anda harus menentukan apakah si kecil kelak akan disekolahkan ke sekolah negeri atau swasta, di dalam atau di luar negeri, dengan standar mutu internasional atau nasional. “Menentukan secara persis pilihan sekolah bagi anak, bertujuan untuk mencari tahu berapa besar biaya sekolah dan uang pangkal saat ini.” Lanjut Rina.

Jangan lupakan juga biaya buku sekolah, seragam dan biaya hidup, apalagi jika sekolah yang dipilih berada di luar kota. Setelah Anda tahu persis pilihan sekolah dan total biaya yang dibutuhkan, maka langkah kedua adalah menentukan jangka waktu dan target biaya di masa depan. Jika saat ini si kecil berusia 3 tahun, maka Anda harus mulai berhitung kapan si kecil masuk TK, SD, SMP, SMU, dan Universitas. Kemudian sesuaikan dengan dana yang harus dialokasikan setiap bulan agar jumlahnya cukup ketika si kecil memasuki jenjang pendidikan tersebut.

Rina mengingatkan agar saat menghitung biaya, Anda tidak melupakan laju inflasi, normalnya sekitar 10% sampai 20%. Untuk menghitung biayanya, ada rumus sederhana yang bisa Anda terapkan dengan menggunakan rumus:

future value: FV= PV. (1+r)n .

FV atau future value adalah besarnya biaya di masa depan
PV adalah nominal biaya sekolah saat ini
r adalah besarnya bunga
n adalah jangka waktu yang Anda butuhkan

Bingung menghitungnya? Klik saja http://1040tools.com untuk kalkulator future value online. Setelah Anda mendapatkan nominal perkiraan, misalnya Rp 400 juta, maka dalam jangka waktu sampai si kecil masuk kuliah, Anda sudah harus bisa menyiapkan sejumlah besar dana yang dibutuhkan tersebut. Untuk itu, maka langkah ketiga –langkah yang paling penting– adalah menentukan penempatan dana sesuai dengan harapan hasil investasi yang bisa diterima di kemudian hari.

Ada banyak pilihan yang bisa Anda lakukan, mulai dari tabungan pendidikan, asuransi, hingga investasi. Semuanya disesuaikan dengan jangka waktu dan kebutuhan Anda. Jika Anda berani menanggung risiko, Anda bisa mencoba memilih investasi di bursa saham yang akan memberikan hasil yang jauh lebih tinggi daripada deposito atau tabungan pendidikan. Menyimpan biaya kuliah Meski semua penasihat keuangan akan menyarankan Anda untuk mulai menabung biaya pendidikan di rekening tersendiri bagi setiap anak sedini mungkin, jangan khawatir jika setelah melakukan perhitungan, Anda merasa tidak akan bisa menabung dengan jumlah yang dibutuhkan tersebut sampai si kecil berusia 18 tahun.

Sebagai gambaran, bila Anda mulai berinvestasi menggunakan reksadana pendapatan tetap setidaknya sekitar Rp 4 juta per tahun dengan bunga 10% per tahun sejak anak berusia setahun, maka saat si kecil masuk kuliah, Anda akan mendapatkan dana pendidikan sebesar Rp 182 juta. Meski nominal ini masih di bawah (misalnya) angka Rp 400 juta yang Anda butuhkan, dana ini tetap akan sangat membantu dibandingkan Anda tidak menyisihkan uang sama sekali.

Lalu, bagaimana mendapatkan sisanya? Jika usia si kecil masih di bawah lima tahun, maka Anda masih memiliki banyak waktu untuk menyiapkan dana tersebut. Rina menyarankan Anda memilih instrumen investasi jangka panjang seperti reksadana saham. Meski investasi ini memiliki risiko moderat hingga risiko tinggi, tapi hasil investasinya akan cukup tinggi dibandingkan menyimpan di tabungan atau deposito. Yang perlu Anda ingat jika memilih investasi jenis ini adalah Anda menyimpan untuk jangka waktu yang lama, bukan jangka pendek.

Jika Anda ragu-ragu memilih berbagai jenis investasi, maka Rina juga menyarankan agar Anda mencari pekerjaan tambahan. “Ada banyak jenis pekerjaan tambahan yang bisa Anda lakukan, apalagi jika itu menjadi bagian dari hobi Anda,” jelas Rina. Misalnya, Anda pandai membuat kue kering dan kue ulang tahun, Anda bisa menawarkannya kepada rekan kerja atau ibu-ibu di taman bermain si kecil. Atau, jika Anda hobi menulis, Anda bisa menjadi kontributor media cetak. Selain itu, masih ada pilihan lain yang bisa membuat Anda menarik napas lega, universitas besar biasanya akan memberikan beasiswa bagi murid-murid yang berprestasi di sekolahnya. Dan, ini bukan hanya di bidang akademis. Universitas Pelita Harapan di Tangerang misalnya, memberikan beasiswa bagi anak-anak yang menonjol di bidang olahraga bola basket.

Perguruan Tinggi Negeri juga menyediakan beasiswa bagi mahasiwanya yang memiliki nilai akademik tinggi. Bahkan perusahaan besar seperti Sampoerna Foundation, atau Yayasan Chevron Texaco dari Caltex, dan beberapa kedutaan besar di Indonesia, membuka bantuan beasiswa setiap tahunnya. Ketika Anda merasa kewalahan mengatur keuangan dengan berbagai kebutuhan si kecil mulai dari popok, susu, babysitter, hingga uang pangkal si kecil di kelompok bermain, memang berat membayangkan bagaimana Anda masih bisa menyisihkan sedikit uang ekstra dari gaji bulanan Anda untuk biaya pendidikan si kecil.

Yang perlu Anda ingat bahwa saat anak-anak masih kecil, Anda belum berada pada posisi puncak karir dan pendapatan. Lima belas tahun dari sekarang, kemungkinan besar gaji Anda akan meningkat, dan biaya pengeluaran untuk kebutuhan bulanan anak juga semakin berkurang, dan Anda akan punya sisa gaji bulanan yang lebih besar untuk membantu membiayai kuliah anak. Melihat besarnya biaya dengan perspektif nyata

Yang terakhir, Rina menyarankan Anda untuk bersikap realistis. Jika memang kondisi keuangan keluarga belum bisa mencukupi kebutuhan tersier, maka Anda disarankan untuk menurunkan pilihan. “Menyekolahkan anak di perguruan tinggi ternama di Amerika mungkin menjadi cita-cita sebagian besar orang tua, tapi jika kondisi keuangan memang tidak mencukupi, daripada Anda terjebak utang, lebih baik Anda menyekolahkannya di negeri sendiri”, jelas Rina.

Anda memang tidak disarankan untuk meminjam uang ke bank untuk biaya kuliah anak. Mengapa? Karena akan sangat membebani secara finansial jika Anda harus membayar cicilan ditambah bunga. Satu hal yang juga perlu Anda ingat saat mengetahui betapa tingginya biaya kuliah: Besarnya biaya kuliah tersebut adalah proyeksi perkiraan biaya masa depan berdasarkan apa yang terjadi saat ini. Tapi, para ahli beranggapan bahwa biaya pendidikan tinggi semakin lama semakin menggila sehingga kemungkinan besar masih akan dikaji ulang sebelum si kecil yang kini berusia 2 tahun lulus dari SMU.

Saat ini memang tidak ada cara pasti untuk memerkirakan seperti apa gambaran biaya kuliah lima belas tahun lagi. Namun Anda bisa membangun awal yang baik dengan merencanakannya secara bijak dan menyisihkan uang sebanyak yang Anda bisa, serta berusaha untuk tidak terlalu panik memikirkan tingginya angka untuk biaya kuliah si kecil kelak.

Parents Indonesia

Pelajaran Antikorupsi Di Sekolah

Apa yang bisa Anda bayangkan, ketika anak-anak sekolah dasar belajar tentang pendidikan anti korupsi, di sebuah negeri yang praktek korupsinya sudah demikian merajalela?

Sebagian dari Anda, akan bersikap pesimis. Dan, Anda tidak sendirian dalam hal ini.

Tetapi terlepas dari sikap pesimistis semacam ini, Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK, justru menyiapkan program pendidikan anti korupsi untuk para siswa di sekolah menengah dan dasar.

Saat ini, KPK telah memiliki materi pelajaran antikorupsi. Seorang staf yang bertanggungjawab menangani program pendidikan antikorupsi, Dhedy Adi Nugroho memperlihatkan kepada saya sampel isi pelajaran yang dimaksudkan.

Ada beberapa buku yang bersampul warna-warni yang dihiasi gambar kartun segala. Isinya disesuaikan dengan tingkat pendidikan sang siswa, kata Dhedy.

Isi naskah buku-buku itu, dikerjakan para staf KPK dan tim ahli, yang melibatkan pula para guru dari beberapa sekolah menengah dan dasar di Jakarta.

Program ini pernah diuji coba di beberapa kota, dan sekarang tengah dimatangkan.

Disisipkan

Pogram antikorupsi di sekolah ini akan nantinya tidak akan menjadi mata pelajaran tersendiri?, tapi hanya akan disisipkan ke kurikulum yang ada, kata
Dhedy Adi Nugroho.

Belum ada kerjasama yang jelas KPK dengan pihak Depdiknas dalam program ini. Tetapi Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas Diah Hartanti mendukung penerapan program ini di sekolah-sekolah, walaupun nantinya bukan sebagai mata pelajaran tersendiri nantinya.

Dhedy Adi Nugroho menepis kekhawatiran program KPK ini nantinya mirip dengan program Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, atau P-4, yang pernah dipraktekkan di masa rezim Orde Baru. Salah-satu perbedaannya adalah program ini tidak diwajibkan masuk kurikulum seperti P-4 dulu.

Saat mengomentari gagasan KPK, Agus Setia, guru SMA Negeri 5 Bandung, menyatakan, dia juga khawatir program ini tidak berjalan, karena institusi sekolah juga tak terlepas dari budaya korupsi.

Tapi Pak Agus memberikan jalan keluar bahwa sekolah harus mulai membenahi diri.

Nada pesimis juga diutarakan seorang guru bernama Hafidz Supriadi, guru SMK 56 Jakarta. Dia khawatir bahwa budaya korupsi yang sudah mengakar di mana-mana.

‘Memberi kesempatan’

Atas tanggapan yang bernada pesimis ini, KPK mengaku terus memperbaiki program ini. Salah-satu langkah penting yang terus dievaluasi adalaha bagaimana mengukur keberhasilan program pendidikan anti korupsi ini, kata Dhedy Adi Nugroho.

Dhedy juga mengharap, program ini nantinya akan membuat para siswa akan siap mental dalam masyarakat yang korup.

Dia juga melihat program ini kela akan mencetak siswa yang tidak malu bersikap tidak melakukan korupsi, walaupun tidak populer.

Dhedy, dan orang-orang yang duduk di KPK, memang dituntut bersikap optimis dalam memerangi praktek korupsi, di tengah nada pesimis yang berkembang di masyarakat.

Bagi pengamat pendidikan Darmatingyas, KPK harus diberi kesempatan untuk menjalankan program ini.

Heyder Affan
Produser BBC Siaran Indonesia