Grup BBM

Ini adalah Group Barcode dari BBM Group Warga Rancaekek... ajang berbagi informasi sekitar Rancaekek... tercinta... Untuk bergabung dengan group ini:

  1. Buka BLACKBERRY MESSENGER pada BlackBerry Anda.

  2. lalu scroll ke bawah hingga menemukan BLACKBERRY GROUPS.

  3. Pilih SCAN A GROUP BARCODE

  4. Arahkan kamera ponsel BlackBerry Anda ke monitor [Gambar barcode di atas]

  5. Posisikan Barcode di tengah layar ponsel Anda, dan Anda otomatis bergabung.

Chat Dengan Pengurus
Rancaekek di Facebook
RancaEkek.Com on Facebook
Donasi Via Paypal
Klik tombol di bawah ini untuk memberi donasi melalui PayPal atau Kartu Kredit kepada kami:

Catatan:
Donasi yang diberikan bukan untuk kepentingan Kecamatan Rancaekek, namun hanya untuk kelangsungan hidup website ini. Terimakasih.
Jumlah Pengunjung
Pengunjung sejak oktober 2008 -- Rincian

Archive for the ‘Anak-anak’ Category

Ajari Anak Puasa, Tanpa Ganggu Tumbuh Kembangnya

Oleh: Dr Widodo Judarwanto SpA

Si Polan sejak usia 5 tahun ternyata sudah melakukan ibadah puasa penuh selama 1 bulan. Tetapi si Udin dengan usia yang sama, jangankan untuk berpuasa terlambat makan sebentar saja sudah berteriak keras sekali. Ibadah yang cukup berat ini dilakukan baik oleh keinginan sendiri ataupun karena keinginan orangtua. Bagaimana merencanakan dan membimbing anak dalam melakukan ibadah puasa tanpa harus mengganggu perkembangan dan pertumbuhan anak ?

Memasuki bulan ramadhan, anak belum akil baliq tidak termasuk umat yang diwajibkan berpuasa. Tetapi pada kenyataannya banyak anak pra akil baliq sudah berpuasa “penuh” layaknya orang dewasa. Periode akil baliq biasanya terjadi saat anak sudah mulai masa pubertas atau sekitar usia 12 tahun. Anak perempuan akan mendapat menstruasi dan payudara mulai berkembang. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, bentuk fisik berubah secara cepat, dan sudah mengalami peristiwa “mimpi basah”. Sejak saat inilah anak diwajibkan untuk berpuasa.

Banyak orang tua beralasan dalam mendidik beribadah khususnya puasa harus dilakukan secara dini dan bertahap. Tak jarang puasa sudah dikenalkan pada anak sejak usia 6 atau 7 tahun meskipun baru puasa setengah hari. Menurut perspektif agama Islam bila ibadah termasuk yang tidak wajib boleh dilakukan asalkan mampu dan tidak dipaksakan. Bila ditinjau dalam bidang kesehatan tampaknya puasa juga mungkin bisa dilakukan oleh anak usia pra akil baliq tetapi harus cermat dipertimbangkan kondisi dan keterbatasan kemampuan anak.

Kondisi psikobiologis anak memang berbeda dengan dewasa dalam melakukan ibadah puasa. Meskipun belum banyak dilakukan penelitian dilakukan terhadap pengaruh berpuasa pada anak dikaitkan dengan aspek kesehatan dan tumbuh kembang anak. Sejauh ini belum pernah dilaporkan seorang anak yang mengalami gangguan yang berat akibat puasa.

FAKTOR PSIKOBIOLOGIS

Aspek kesehatan secara psikobiologis anak usia sebelum akil baliq dapat ditinjau dari aspek tumbuh kembang anak dan fungsi biologis. Aspek perkembangan meliputi perkembangan psikologis seperti perkembangan emosional, perkembangan moral dan perilaku lainnya. Fungsi biologis meliputi aspek fisiologis tubuh, metabolisme tubuh, kemampuan fungsi organ dan sistem tubuh.

Dari aspek perkembangan khususnya kecerdasan dalam periode ini anak mulai banyak melihat dan bertanya. Fantasinya berkurang karena melihat kenyataan, ingatan kuat daya kritis mulai tumbuh, ingin berinisiatif dan bertanggung jawab. Perkembangan rohani pemikiran tentang Tuhan sudah mulai timbul. Anak sudah mulai dapat memisahkan konsep pikiran tentang Tuhan dengan orangtuanya. Tetapi pemahaman tentang konsep ini masih terbatas, bahwa Tuhan itu ada. Demikian pula dalam perkembangan moral, pada periode ini pemahaman konsep baik dan buruk masih sederhana. Makna pemahaman ini hanya sebatas sekedar tahu. Artinya kenapa kewajiban agama dan kebaikan perilaku harus dilakukan belum dipahami secara sempurna. Sehingga dalam melakukan ibadah puasa juga lebih dilatarbelakangi karena faktor fisik tidak dipahami secara moral. Kalaupun moral berperanan lebih dari sekedar hubungan manusia dan manusia. Niat ibadah puasa dikerjakan berdasarkan pengaruh hubungan keluarga atau lingkungan. Misalnya, anak berpuasa karena teman sekelas atau sepermainan sudah berpuasa. Atau, bila berpuasa penuh akan mendapat hadiah dari orang tua.

Dalam aspek biologis kondisi fisiologis tubuh khususnya metabolisme tubuh, fungsi hormonal dan fungsi sistem tubuh usia anak berbeda dengan usia dewasa. Bila aktifitas berpuasa merupakan beban yang tidak sesuai dengan kondisi fisiologis anak dapat berakibat mengganggu tumbuh dan berkembangnya anak. Demikian pula dalam hal mekanisme sistem imun atau pertahanan tubuh anak dan dewasa berbeda. Ketahanan anak dalam merespon masuknya penyakit dalam tubuh lebih lemah.

PERUBAHAN KONDISI TUBUH SAAT BERPUASA

Beberapa penelitian menyebutkan sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang berarti saat berpuasa dibandingkan saat tidak berpuasa. Puasa saat Ramadan tidak mempengaruhi secara drastis metabolism lemak, karbihidrat dan protein. Meskipun terjadi peningkatan serum uria dan asam urat sering terjadi saat terjadi dehidrasi ringan saat puasa.

Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL and apoprotein A1, dan penurunan LDL ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa the penelitian “chronobiological” menunjukkan saat puasa ramadan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia.

Ritme dan kualitas jam tidur malam, dan kewaspadaan sehari-hari dan kemampuan psikomotor cederung berkurang. Hal inilah yang mengakibatkan peningkatan resiko terjadinya kecelakaan pada anak seperti terjatuh, terpeleset atau kecelakaan saat mengendarai sepeda. Resiko ini semakin meningkat pada anak yang sebelumnya mengalami gangguan kesimbangan, regulasi dan koordinasi.

PERENCANAAN IBADAH PUASA PADA USIA ANAK

Melihat kondisi psikobiologis dan perubahan fisiologi tubuh saat puasa khususnya pada usia anak tertentu sebaiknya dilakukan tahapan waktu disesuaikan dengan usia dan kemamuan mental anak. Tahapan waktu mungkin bisa dilakukan dengan puasa setengah hari pada usia di bawah enam tahun. Di atas usia enam tahun mungkin diperkenalkan puasa penuh saat awal dan akhir puasa yang secara bertahap dilakukan penambahan jumlah puasa yang penuh. Tahapan waktu tersebut harus disesuaikan dengan mental seorang anak. Seorang anak berusia 5 tahun yang mempunyai motivasi yang tinggi dan bermental kuat mungkin dapat berpuasa penuh. Tetapi anak lain yang bahkan dengan usia 2 tahun di atasnya mungkin untuk satu hari berpuasa penuh sudah merupakan siksaan yang luar biasa.

Saat berpuasa pembelanjaran mental adalah pengalaman penting yang dapat berguna dalam pembinaan moral dan mental anak. Faktor mental inilah yang tampaknya sangat berperanan penting dalam keberhasilan pelkaksanaan ibadah puasa seorang anak. Mental setiap anak berbeda dengan anak lainnya dalam melakukan ibadah puasa. Anak dengan tipe mental baja atau yang jarang mengeluh berbeda dengan anak yang bernyali rendah. Meskipun dengan kondisi fisik yang tidak optimal ternyata dapat bertahan baik untuk menutupi kelemahan fisik saat puasa. Kadang hanya dengan memotivasi dan mensuport mental anak dengan pujian maka kendala fisik dalam berpuasa dapat diabaikan. Sebaiknya dalam memotivasi mental anak tersebut bukan dengan paksaan yang dapat berakibat tergangguanya psikologis anak. Tekanan psikologis inilah dapat memperberat beban fisik yang sudah terjadi saat menjalani ibadah puasa pada anak.

Kegiatan puasa berpengaruh terhadap perkembangan emosi, perkembangan moral dan perkembangan psikologis anak. Tidak dapat disangkal lagi bahwa ibadah puasa mempunyai pengaruh positif terhadap pendidikan perkembangan anak. Tetapi harus diwaspadai bahwa aktifitas puasa juga dapat berpengaruh negatif bila tidak mempertimbangkan kondisi psikologi anak. Hal ini terjadi bila ibadah ini dilakukan dengan paksaan dan ancaman. Dalam keadaan normal emosi dan perilaku anak sangat tidak stabil. Saat puasa yang dalam kondisi lapar dan haus akan sangat mempengaruhi kestabilan emosi dan perilaku anak.

Mengingat fungsi psikobiologis anak berbeda dengan dewasa, maka harus dicermati pengaruh puasa terhadap anak. Pengaruh negatif yang harus diwaspadai adalah berkurangnya jam tidur anak. Saat bulan ramadhan jadwal aktifitas anak berbeda dengan sebelumnya. Dalam bulan tersebut aktifitas anak bertambah dengan kegiatan sholat tarawih, makan sahur atau kegiatan pesantren kilat. Bila jam tidur ini berkurang atau berbeda dengan sebelumnya akan mempengaruhi keseimbangan fisiologis tubuh yang sebelumnya sudah terbentuk. Gangguan keseimbangan fisiologis tubuh ini akan berakibat menurunkan fungsi kekebalan tubuh yang berakibat anak mudah sakit. Sebaiknya orang tua harus ikut merencanakan dan mamantau jadwal aktifitas anak termasuk jam tidur anak dengan cermat. Pada usia pra akil baliq kebutuhan tidur anak secara normal berkisar antara 10-12 jam per hari, dengan rician malam hari 10 jam siang hari 1-2 jam. Dalam bulan ramadan orang tua hendaknya dapat memodifikasi jadwal tidur ini dengan baik.

Pengaruh lain yang harus diamati adalah pengaruh asupan gizi pada anak. Jumlah, jadwal dan jenis gizi yang diterima akan berbeda dengan saat sebelum puasa. Dalam hal jumlah mungkin terjadi kekurangan asupan kalori, vitamin dan mineral yang diterima anak. Aktifitas yang bertambah ini juga akan meningkatkan kebutuhan kalori, vitamin dan mineral lainnya. Padahal saat puasa relatif pemenuhan kebutuhan kalori lebih rendah. Bila keseimbangan asupan gizi terganggu dapat menurunkan fungsi kekebalan tubuh sehingga anak mudah terserang penyakit. Dalam keadaan seperti ini tampaknya pemberian suplemen vitamin cukup membantu. Parameter yang paling mudah untuk melihat asupan kalori cukup adalah dengan memantau berat badan anak. Bila berat badan anak tetap atau meningkat mungkin puasa dapat dilanjutkan. Tetapi bila berat badan menurun drastis dalam jangka pendek sebaiknya puasa harus dihentikan.

Demikian pula dengan jenis asupan gizi yang diterima. Variasi dan jumlah makanan yang didapatkan saat bulan puasa akan berbeda dengan sebelumnya. Saat bulan puasa variasi makanan yang tersedia biasanya lebih banyak. Pada penderita alergi pada jenis makanan tertentu harus diwaspadai karena dapat berpengaruh terhadap gangguan kesehatan. Menurut pengalaman praktek sehari-hari kasus alergi makanan pada anak cenderung meningkat saat bulan puasa. Sebaiknya orangtua menghindari jenis makanan ringan kemasan yang mengandung bahan pengawet dan beraroma rasa atau warna yang kuat. Minuman bersoda dan sangat pedas sebaiknya dihindarkan. Mulailah berbuka dengan bahan makanan dan minuman pembuka yang manis. Pemilihan makanan yang berkalori dan karbohidrat tinggi saat sahur lebih utama. Secara umum prinsip pemilihan menu makanan dengan gizi yang cukup dan seimbang harus diutamakan.

YANG HARUS DIWASPADAI PADA ANAK

Kondisi umum yang harus diwaspadai dalam melakukan puasa pada anak adalah anak yang mudah sakit (mengalami infeksi berulang), gangguan pertumbuhan, penyakit alergi atau asma serta gangguan perilaku (Autis, ADHD dll). Kegemukan apada anak juga merupakan kondisi yang harus diwaspadai. Pada penderita kegemukan pada anak seringkali terjadi perbedaan komposisi kesimbangan cairan tubuh dan perbedaan fungsi tubuh lainnya. Bila perlu pada kondisi tertentu sebaiknya dilakukan konsultasi ulang pada dokter anak sebelum melakukan ibadah puasa.

Keadaan yang harus dihindari berpuasa pada anak akil baliq adalah penyakit infeksi akut (batuk, pilek, panas), infeksi kronis (tuberkulosis dll), penyakit bawaan gangguan metabolisme, jantung, ginjal, kelainan darah dan keganasan. Meskipun infeksi akut virus seperti batuk, pilek atau panas yang dialami ringan, bila kondisi tubuh turun seperti berpuasa akan menimbulkan resiko komplikasi yang berat.

Pengeluaran kalori yang tinggi pada anak sering diakibatkan pada aktifitas bermain harus disesuaikan dengan kondisi saat berpuasa. Tidak seperti pada manusia dewasa, pada umumnya anak masih belum bisa menakar kemampuan tubuh dan aktifitas sehari-hari. Dalam melakukan aktifitas pada usia anak hanya didominasi kesenangan dan keasyikan bermain. Sebaiknya orangtua membantu mencari kegiatan dan permainan yang sesuai dengan kondisi tubuh saat berpuasa. Sebaiknya dicari permainan yang lokasinya berada di dalam gedung atau tempat teduh, dan saat sore hari menjelang berbuka. Permainan yang menyita tenaga lebih sebaikknya dihindarkan. Peningkatan aktifitas belanja di pusat perbelanjaan saat menjelang lebaran, meskipun tampaknya ringan ternyata sangat menyita energi. Hal ini terjadi karena pengaruh situasi yang nyaman saat belanja. Sebaiknya anak tidak diikutsertakan dalam kegaiatan ini, kalaupun ikut dicari waktu setelah buka puasa.

Puasa pada anak mungkin dapat dilakukan tetapi harus cermat memperhatikan kondisi normal psikobiologisnya. Sedangkan kondisi psikobiologis setiap anak berbeda dan tidak dapat disamakan. Bila kondisi itu tidak diperhatikan maka puasa merupakan beban bagi mental dan fisik anak. Selanjutnya akan berakibat mengganggu tumbuh kembang anak. Tetapi bila puasa dilakukan dengan mempertimbangkan dengan cermat kondisi anak maka dapat merupakan pendidikan terbaik bagi perkembangan moral dan emosi anak. Buah hatiku, selamat menjalani ibadah puasa.

Sumber: Koran Anak Indonesia

Kapan Waktu Tepat Ajari Anak Puasa

VIVAnews – Ada tugas penting bagi orangtua dengan anak selama Ramadan. Selain menyambut bulan penuh berkah ini dan menjalankan puasa, orangtua juga berkewajiban mengajarkan anak-anak mengenai  berpuasa Ramadan. Namun, banyak orangtua merasa  khawatir dan tak tega melihat buah hati lemas lantaran haus dan lapar.

Berdasarkan penelitian, berpuasa memberi dampak positif bagi perkembangan fisik dan mental anak. Beberapa ahli meyakini puasa meningkatkan hormon pertumbuhan anak dan meningkatkan daya tahan tubuh. Secara psikologis anak yang berpuasa memiliki pola hidup lebih disiplin, sabar, mau berbagi dan mengendalikan diri. Namun, karena si kecil memiliki kemampuan terbatas, jangan memaksakan mereka berpuasa.

Sejak kapankah tepatnya mulai memperkenalkan dan mengajarkan si kecil tentang puasa? Berdasarkan laman Pediatrica Gadjah Mada, orangtua boleh memperkenalkan puasa kepada buah hati saat memasuki usia empat tahun.

Latih anak untuk makan sahur bersama dan berpuasa selama beberapa jam selama beberapa hari. Semakin dewasa usia anak, berikan rentang waktu berpuasa yang lebih lama seperti setengah hari pada minggu berikutnya dan dilanjutkan berpuasa hingga berbuka.

Berikut ini beberapa tips sederhana, dalam mengajarkan anak berpuasa:

1. Pengertian
Tanamkan pengertian dan pemahaman mengenai puasa, mengapa berpuasa penting, keuntungan berpuasa serta pahala yang akan diperoleh.

2. Tetapkan target
Setelah anak memahami arti puasa, buatlah perjanjian berapa hari si kecil akan berpuasa. Sesuaikan dengan kondisi dan usia anak.

3. Buat agar sahur menyenangkan
Ajari anak makan sahur dengan lembut dan sabar. Mereka belum terbiasa terhadap pola sahur yang menyita waktu tidur dan makan dalam kondisi mengantuk. Agar anak lebih mudah makan sahur, buatlah menu-menu makan sahur favorit serta menu semenarik mungkin.

4. Sibukkan anak saat berpuasa
Ciptakan kegiatan yang menarik selama bulan Ramadan, karena biasanya sekolah berlangsung lebih cepat saat Ramadan. Aktivitas bermain yang tak menguras tenaga akan membuatnya lupa bahwa ia sedang berpuasa.

5. Buat Tabel Puasa
Ajak anak membuat tabel mengenai perkembangan puasa dan target mereka selama Ramadan. Beri tanda cek bila anak berhasil mencapai target.

6. Berikan hadiah
Jangan lupa memberi anak hadiah setelah berhasil melewati satu hari puasa sesuai target. Pelukan dan ciuman hangat cukup memberi motivasi bagi anak untuk kembali berpuasa esok hari.

Sumber: Yahoo News

Melatih Anak Puasa Sejak Dini?

By Dr. Irwan

Tanpa dirasa, Ramadhan telah tiba. Bulan yang penuh rahmah dan berkah. Bulan yang penuh dengan pengampunan dan pembebasan dri api neraka. Buat kita orang tua, yang telah berpuluh kali menjalani puasa tentu sudah tahu apa tujuan, makna dan faedah puasa, tapi bagaimana dengan anak-anak kita?
Apa yang terjadi akhir-akhir ini di negara kita tentunya mendorong kita untuk semakin memperhatikan pendidikan anak-anak kita agar mereka bisa menjadi anak-anak yang sholeh dan solihah. Anak-anak yang ketika dewasa nanti bisa menjadi muslim yang baik, anak yang taqwa dan selalu mendahulukan Allah, ketika kita harus pergi menghadap Allah, dia bisa menyembahyangkan dan selalu mendoakan kita pula, ketika kita menjadi penghuni alam barzah.

Untuk itu marilah kita manfaatkan semaksimal mungkin kesempatan emas dengan datangnya Ramadhan yang mulia ini untuk memberikan latihan-latihan ruhiyah bagi anak-anak kita, dengan mempersiapkan dan melatih mereka menjalankan ibadah puasa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Kapan anak sudah bisa kita latih berpuasa? Untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita simak sebuah hadits ketika seseorang bertanya kepada Rosulullah tentang : Kapan seorang anak dilatih untuk shalat? Rosulullah menjawab: “Jika ia sudah dapat membedakan tangan kanan dan tangan kirinya.” Kalau kita memperhatikan hadits di atas, menurut bapak ibu usia berapa anak kita bisa membedakan tangan kanan dan tangan kirinya? Tentu sekitar 2 sampai 3 tahun bukan? Pada hadits yang lain Rosulullah saw bersabda: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat pada usia 7 tahun dan pukulah ia pada usia 10 tahun (jika meninggalkannya )” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dari Sabrah bin Maâ??bad Al-Juhani ra).

Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Tarbiyatul Aulad fil Islam mengatakan bahwa perintah mengajar shalat ini dpat disamakan untuk ibadah lainnya seperti shoum dan haji bila telah mampu. Mengikuti kedua hadits dan pendapat di atas,dapat dikatakan bahwa seperti halnya shalat maka puasapun sudah dapat diperkenalkan pada anak sejak mereka berusia dua atau tiga tahun, yaitu ketika mereka sudah tahu membedakan tangan kanan dan tangan kirinya. Kalau memang sudah demikian kata Rosulullah tentu tidak ada alasan buat kita membantahnya.

Bagaimana dasar ilmiah dan psikologisnya melatih anak anak sejak dini?

  1. Hasil temuan tentang otak yang dipublikasikan bulan Oktober tahun 1997 di Amerika menunjukkan bahwa pada saat lahir Alllah iu membekali manusia dengan 1 milyar sel-sel otak yang belum terhubungkan satu dengan yang lainnya. Sel-sel ini akan saling berhubungan bila anak mendapat perlakuan yang penuh kasih sayang, perhatian, belaian bahkan bau keringat orang tuanya. Hubungnan sel-sel tersebut mencapai trilliun begitu anak berusia 3 tahun. Dari usia 3 sampai 11 tahun terjadi apa yang disebut proses restrukturisasi atau pembentukan kembali sambungan-sambungan tersebut. Hal-hal yang tidak ulang-ulang akan menjadi lapuk dan gugur. Bila temuan ini kita hubungkan dengan hadits di atas, maha benar Rosulullah bahwa kita perlu memperkenalkan berbagai hal kepada anak kita termasuk di dalamnya masalah beribadah sedini mungkin dan mengulang-ulangnya selama 7 tahun, sehingga pada usia 10 tahun anak kita bukan saja sudah mampu melakukannya dengan baik tapi juga insya Allah telah memahami makna pentingnya ibadah tersebut sehingga ia rela menerima sanksi bila ia tidak menunaikan ibadah tersebut dengan baik.
  2. Kita mengetahui bahwa anak lahir dalam keadaan fitrah, sehingga mudah dibentuk sesuaidengan apa yang diinginkan orang tuanya.
  3. Pada usia muda, anak menerima nilai dan kebiasan yang kita tanamkan dengan mempercayainya tanpa argumen. Usia 0-3 tahun ego anak belum begitu berkembang sehingga dia tidak seperti anak yang lebih besar yang egonya sudah mengalami perkembangan lebih baik, sehingga gampang protes.
  4. Masa anak-anak adalah masa yang sangat menentukan bagi pembentukan kepribadiannya kelak. Hal-hal yang baik maupun buruk yang terjadi dimasa balita mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupannya kelak.
  5. Memanfaatkan daya ingat anak yang kuat semasa kecil seperti pepatah Arab : Belajar diwaktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa bagai mengukir di atas air.
  6. Sebelum usia 5 tahun tokoh identifikasi anak adalah orang tua. Bila dia bertambah besar dan lingkungan pergaulannya sudah melebar dari hanya rumah maka anak juga mulai mengidentifikasi orang-orang lain di sekitarnya.
  7. Mendidik anak tidak sama dengan mengajar. Mendidik anak adalah membantu anak mencapai kedewasaan baik dari segi akal, ruhiyah dan fisik. Jadi apa yang kita lakukan adalah membantu anak untuk kenal dan tahu sesuatu, kemudian dia mau dan bisa kemudian menjadi biasa dan terampil mengamalkannya. Hal ini bukan saja membutuhkan waktu yang lama tetapi juga kemauan yang kuat, kasabaran, keuletan dan semakin awal memulainya semakin baik.

Bagaimana kiatnya? Kiat utamanya adalah seperti apa yang tergambar dari riwayat bawah ini:

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkandari Ar-Rubaiyyi binti Muawwidz, berkata : Rosulullah saw mengutus seseorang pada pagi hari Asyura ke perkampungan orang-orang Anshor, katanya: “Siapa yang pagi ini berpuasa maka hendaklah ia berpuasa dan menyempurnakan puasanya. Maka kamipun menyempurnakan puasa pada hari itu dan kami mengajak anak-anak kami berpuasa. Mereka kami ajak ke masjid, lalu kami beri mereka mainan dari benang sutera. Jika mereka menangis minta makan kami berikan mainan itu, sampai datang waktu berbuka.” Hadits di atas mengajarkan kepada kita metode yang tepat dalam melatih anak beribadah yaitu melalui permainan.

Bukankah bermain itu dunia anak-anak? Dan sudah pasti mereka menyukainya. Bagi kita orang tua, walaupun kelihatannya sepele hal ini tidaklah mudah. Bagaimana menyampaikan apa yang kita tahu tentang puasa itu dengan cara yang menyenangkan kalau bisa melalui bermain. Ini melalui persiapan dan ketekunan.

Sumber: Dokter Anak Ku

Menyiapkan Sarapan Praktis & Sehat untuk Anak

Menyiapkan sarapan untuk si buah hati memang diperlukan kecermatan para Bunda. Baik dalam memilih menu, bahan dan teknik pengolahan. Mengingat selain aspek gizi, pertimbangan rasa dan penampilan yang menarik perlu diperhatikan agar hidangan sarapan disukai anak serta memenuhi semua unsur gizi seimbang.

Setelah tidur selama 8 hingga 9 jam di malam hari, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan. Sarapan pagi sangat penting dilakukan anak pada waktu pagi hari. Sarapan berfungsi untuk memenuhi unsur gizi tubuh selama menjalani beraktivitas dari pagi hingga waktu makan siang tiba. Selain belajar disekolah, berolahraga serta bermain, seorang anak juga dalam masa pertumbuhan sehingga kecukupan gizi harus terpenuhi. Dengan sarapan anak lebih berkosentrasi  dalam belajar dan badan tidak lemas karena tubuh tercukupi kebutuhan kalorinya. Idealnya menu sarapan anak memiliki komposisi nutrisi seimbang.

Bagi para Bunda, menyiapkan menu sarapan terkadang memiliki banyak kendala. Selain keterbatasan waktu menyiapkan menu sarapan yang singkat, penampilan makanan harus menarik agar menggugah selera makan. Rasa hidangan juga harus disukai anak-anak. Menu sarapan harus mengacu ke pola menu seimbang sehingga semua kebutuhan gizi anak bisa tercukupi. Berikut tip yang bisa dijadikan pedoman para bunda dalam menyusun menu sarapan untuk si buah hati.

  1. Menu sebaiknya dipilih yang praktis dan mudah dibuat karena menyiapkan sarapan waktunya sangat singkat. Anak akan segera pergi ke sekolah dan para Bunda juga biasanya akan segera berangkat kerja.
  2. Selalu berpedoman dengan pola menu seimbang di dalam menyusun menu sarapan anak. Pemilihan bahannya harus mengandung zat gizi lengkap seperti karbohidrat, protein, lemak, energi, vitamin, mineral, air dan serat.
  3. Pilih satu menu hidangan namun  yang mengandung unsur gizi lengkap. Seperti sandwich isi sayuran dan tuna, nasi goreng campur telur dan sayuran, mi rebus dengan telur dan sayuran,  burger dengan isi daging dan sayuran, makaroni panggang isi daging, bubur ayam, atau bubur cereal dengan campuran susu dan buah. Dengan satu hidangan bergizi lengkap, para bunda tidak perlu repot menyiapkan beberapa jenis makanan.
  4. Variasikan menu sarapan pagi dengan beragam bahan, seperti nasi, roti dan  kentang sebagai sumber karbohidrat. Telur, ikan, daging, ayam dan susu sebagai sumber protein hewani. Tahu, tempe dan kacang-kacangan sumber protein nabati. Sayuran dan buah sebagai sumber vitamin, mineral dan serat.
  5. Buat jadwal menu sarapan dengan hidangan yang berbeda selama 10 hari sehingga anak tidak bosan menyantap hidangan yang itu-itu saja.  Dengan jadwal menu, para bunda juga menjadi lebih mudah dalam menentukan daftar belanja.
  6. Sajikan makanan dengan piranti saji serta penampilan makanan yang menarik. Tujuannya agar selera makan anak bertambah, mengingat di pagi hari biasanya anak-anak kurang berselera makan.
  7. Jika memungkinkan, ajak anak berdiskusi tentang menu sarapan yang diinginkan serta diajak terlibat langsung dalam proses pembuatan makanan. Dengan cara ini anak akan lebih nafsu makan, sebagai bentuk rasa tanggung jawab dengan menu pilihannya.
  8. Agar lebih praktis, bahan yang perlu persiapan khusus seperti memotong, mengupas dan menghaluskan sayuran atau bumbu-bumbu bisa disiapkan sehari sebelumnya dan disimpan di dalam kulkas. Dengan cara ini, bunda tidak perlu menyiapkan bahan terlalu lama saat membuat menu sarapan.
  9. Ciptakan suasana menyenangkan di saat sarapan, agar anak lebih lahap menyantap hidangan.
  10. Bekali anak dengan makanan dan minuman yang sehat ketika ke sekolah. Contohnya puding, potongan buah-buahan, lemper isi ayam atau sandwich dengan aneka isi. Makanana bekal berfungsi sebagai makanan selingan antara waktu makan pagi dan makan siang.
  11. Hindari  memberikan makanan sarapan dengan bumbu tajam seperti cabe, asam, atau lada yang terlalu banyak. Makanan berbumbu tajam bisa menggagu sistem pencernaan anak.

Sumber: Sahabat Nestle

Menyiapkan Sarapan Praktis & Sehat untuk Anak
Menyiapkan sarapan untuk si buah hati memang diperlukan kecermatan para Bunda. Baik dalam memilih menu, bahan dan teknik pengolahan. Mengingat selain aspek gizi, pertimbangan rasa dan penampilan yang menarik perlu diperhatikan agar hidangan sarapan disukai anak serta memenuhi semua unsur gizi seimbang.
Setelah tidur selama 8 hingga 9 jam di malam hari, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan. Sarapan pagi sangat penting dilakukan anak pada waktu pagi hari. Sarapan berfungsi untuk memenuhi unsur gizi tubuh selama menjalani beraktivitas dari pagi hingga waktu makan siang tiba. Selain belajar disekolah, berolahraga serta bermain, seorang anak juga dalam masa pertumbuhan sehingga kecukupan gizi harus terpenuhi. Dengan sarapan anak lebih berkosentrasi  dalam belajar dan badan tidak lemas karena tubuh tercukupi kebutuhan kalorinya. Idealnya menu sarapan anak memiliki komposisi nutrisi seimbang.
Bagi para Bunda, menyiapkan menu sarapan terkadang memiliki banyak kendala. Selain keterbatasan waktu menyiapkan menu sarapan yang singkat, penampilan makanan harus menarik agar menggugah selera makan. Rasa hidangan juga harus disukai anak-anak. Menu sarapan harus mengacu ke pola menu seimbang sehingga semua kebutuhan gizi anak bisa tercukupi. Berikut tip yang bisa dijadikan pedoman para bunda dalam menyusun menu sarapan untuk si buah hati.
  1. Menu sebaiknya dipilih yang praktis dan mudah dibuat karena menyiapkan sarapan waktunya sangat singkat. Anak akan segera pergi ke sekolah dan para Bunda juga biasanya akan segera berangkat kerja.
  2. Selalu berpedoman dengan pola menu seimbang di dalam menyusun menu sarapan anak. Pemilihan bahannya harus mengandung zat gizi lengkap seperti karbohidrat, protein, lemak, energi, vitamin, mineral, air dan serat.
  3. Pilih satu menu hidangan namun  yang mengandung unsur gizi lengkap. Seperti sandwich isi sayuran dan tuna, nasi goreng campur telur dan sayuran, mi rebus dengan telur dan sayuran,  burger dengan isi daging dan sayuran, makaroni panggang isi daging, bubur ayam, atau bubur cereal dengan campuran susu dan buah. Dengan satu hidangan bergizi lengkap, para bunda tidak perlu repot menyiapkan beberapa jenis makanan.
  4. Variasikan menu sarapan pagi dengan beragam bahan, seperti nasi, roti dan  kentang sebagai sumber karbohidrat. Telur, ikan, daging, ayam dan susu sebagai sumber protein hewani. Tahu, tempe dan kacang-kacangan sumber protein nabati. Sayuran dan buah sebagai sumber vitamin, mineral dan serat.
  5. Buat jadwal menu sarapan dengan hidangan yang berbeda selama 10 hari sehingga anak tidak bosan menyantap hidangan yang itu-itu saja.  Dengan jadwal menu, para bunda juga menjadi lebih mudah dalam menentukan daftar belanja.
  6. Sajikan makanan dengan piranti saji serta penampilan makanan yang menarik. Tujuannya agar selera makan anak bertambah, mengingat di pagi hari biasanya anak-anak kurang berselera makan.
  7. Jika memungkinkan, ajak anak berdiskusi tentang menu sarapan yang diinginkan serta diajak terlibat langsung dalam proses pembuatan makanan. Dengan cara ini anak akan lebih nafsu makan, sebagai bentuk rasa tanggung jawab dengan menu pilihannya.
  8. Agar lebih praktis, bahan yang perlu persiapan khusus seperti memotong, mengupas dan menghaluskan sayuran atau bumbu-bumbu bisa disiapkan sehari sebelumnya dan disimpan di dalam kulkas. Dengan cara ini, bunda tidak perlu menyiapkan bahan terlalu lama saat membuat menu sarapan.
  9. Ciptakan suasana menyenangkan di saat sarapan, agar anak lebih lahap menyantap hidangan.
  10. Bekali anak dengan makanan dan minuman yang sehat ketika ke sekolah. Contohnya puding, potongan buah-buahan, lemper isi ayam atau sandwich dengan aneka isi. Makanana bekal berfungsi sebagai makanan selingan antara waktu makan pagi dan makan siang.
  11. Hindari  memberikan makanan sarapan dengan bumbu tajam seperti cabe, asam, atau lada yang terlalu banyak. Makanan berbumbu tajam bisa menggagu sistem pencernaan anak.

Hindarkan Anak dari Sugesti Negatif

JAKARTA, KOMPAS.com - Anak-anak harus dihindarkan dari sugesti negatif yang sering dilontarkan secara sadar maupun tidak sadar oleh orangtua, bila ingin anaknya tumbuh dan berkembang secara maksimal.

Hal itu disampaikan Ahli hipnoterapi Lanny Kuswandi dalam seminar berjudul “Hypnoparenting, Belajar Menjadi Orang Tua Terbaik”, di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, sugesti positif ataupun negatif sama-sama memiliki pengaruh yang cukup besar bagi tumbuh kembang mental anak.

Misalnya, pada saat bayi dalam kandungan, lahir, sampai tumbuh hingga usia anak-anak, banyak orangtua sudah melakukan sugesti positif dengan sering mengatakan “kalau besar kamu akan menjadi anak cantik, sholeh, dan lain-lain”.

Sugesti tersebut bisa menimbulkan kepercayaan diri bagi anak selama masa pertumbuhan hingga dewasa, sehingga perkataan orangtua bisa terwujud.

Demikian juga sebaliknya, kata Lanny, secara tidak sadar orangtua juga sering melakukan sugesti negatif yaitu bila melihat anaknya naik tangga, langsung berteriak “Awas nanti jatuh”, yang dikatakan berulang-ulang.

Dengan demikian, dengan melakukan sugesti negatif baik secara sengaja maupun tidak, bisa membuat anak benar-benar jatuh.

Sebaiknya kalimat yang diucapkan untuk mengingatkan anak adalah, “anak yang pintar sedang naik tangga, pegangan ya sampai atas dengan selamat”, sehingga diharapkan si anak bisa sampai ke atas dengan selamat.

Selain itu, kata dia, stres pada orangtua juga akan memberikan pancaran aura negatif (tidak sehat) kepada anak-anaknya.

Kondisi tersebut, lama kelamaan dapat mengakibatkan gangguan penurunan daya tahan tubuh sehingga berpengaruh pada kesehatan fisik maupun mental anak, ujarnya.

Psikologi hipnotis dapat digunakan sebagai sebuah metode terapi yang dikenal dengan hipnoterapi, seperti untuk menghilangkan phobia, melupakan sebuah kejadian traumatis dan menghilangkan kebiasaan yang tidak diinginkan seperti narkoba.

Sumber: Kompas.Com

Membangun Pondasi Kepribadian Anak

Biarkan anak-anak tumbuh pada realitas yang semestinya dengan bimbingan kita, orang tuanya. Kita rawat dan didik mereka dengan kasih sayang, dengan memilihkan lingkungan dan sekolah yang mendukung misi kita dalam mendidik anak. Di era sekarang ini, tantangan yang dihadapi oleh para orang tua semakin berat. Serbuan informasi yang membanjir melalui berbagai media yang sangat mudah diakses. Jika informasi tersebut diakses secara terbimbing akan memberikan dampak positif dengan semakin luasnya wawasan yang akan diperoleh anak. Namun jika dibiarkan tanpa kontrol, akan memberikan ekses negatif yang tidak mudah untuk dipulihkan.
Anak-anak sekarang sangat berbeda dengan anak-anak di masa kecil kita. Dulu di zaman kita, apa-apa yang dikatakan oleh orang tua, tidak akan terbantahkan. Artinya, anak-anak tidak berani membantah. Tetapi anak-anak sekarang sangat cerdas. Tidak mudah menjadikan anak-anak kita menaati kita kalau kita tidak mampu memberikan pengertian yang bisa dipahami anak. Kita tidak bisa jika hanya sekadar melarang atau memerintahkan sesuatu kalau tanpa penjelasan mengapa harus begini atau begitu. Dan itu adalah tantangan dan tugas berat kita.
Lalu bagaimana seharusnya kita mendidik anak-anak kita? Apakah anak-anak harus kita isolasi secara total dari media, televisi khususnya, atau bagaimana? Haruskah kita menimbang antara apakah anak-anak kita akan disterilkan dari lingkungan yang akan memberikan pengaruh yang tidak baik terhadap mereka, ataukah kita paparkan sekalian dalam kenyataan yang ada dengan konsekuensi bagi kita orang tuanya untuk bekerja lebih keras dalam membimbing mereka. Jika kita sterilkan, anak-anak akan kesulitan jika menghadapi realitas dalam lingkungan mereka kelak.
Menghadapi realitas, mau tidak mau harus kita lakukan. Biarkan anak-anak tumbuh pada realitas yang semestinya dengan bimbingan kita sebagai orang tuanya. Kita rawat dan didik mereka dengan kasih sayang, dengan memilihkan lingkungan dan sekolah yang mendukung misi kita dalam mendidik anak. Namun hal yang harus senantiasa kita ingat bahwa tanggung jawab pendidikan anak tetap berada di tangan kita. Sekolah hanya bersifat membantu. Sebab orang tualah yang nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt. tentang pendidikan anak-anaknya.
Rasulullah saw. menunjukkan kepada kita bagaimana membangun kepribadian anak agar menjadi baik:
1. Mengokohkan Bangunan Keyakinan

Rasulullah saw. mengawali pembentukan kepribadian para sahabat dengan menanamkan bangunan keyakinan baru secara kokoh. Keimanan akan ke-MahaKuasa-an Allah, keyakinan akan kebenaran Islam, dan kerinduan yang sangat besar terhadap jannah. Keyakinan semacam inilah yang membentuk orientasi dan wawasan hidup para shahabat.
Untuk itulah diperlukan upaya yang terus-menerus untuk menyegarkan dan mengokohkan bangunan keyakinan ini terhadap anak-anak kita. Tentu saja sarana-sarana pembelajaran yang dilakukan disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan anak.

Selain itu, pengenalan terhadap Rasulullah juga harus dilakukan sejak dini. Agar tumbuh dalam diri anak kecintaan terhadap Rasulullah. Dengan begitu, maka anak akan mudah diarahkan untuk meneladani apa-apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw.

Sarana yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai tujuan itu sangat banyak. Dengan nyanyian, cerita, atau permainan. Sedangkan sarana-sarana audiovisual yang ada bisa dimanfaatkan secara optimal. Sedang untuk anak-anak yang sudah bisa diajak berdialog, maka sarana diskusi bisa dimaksimalkan. Pada waktu-waktu tertentu anak bisa diajak untuk tafakur alam, untuk melihat secara langsung kebesaran dan kekuasaan Allah swt.
2. Mendekatkan Interaksi dengan Al-Qur’an

Kunci kedua adalah kuatnya interaksi dengan Al-Qur’an. Sebagaimana kita pahami bersama, dinamika kehidupan Rasulullah bersama sahabat-sahabatnya berjalan beriringan dengan turunnya ayat-ayat Al-Qur’an.
Saat ini, interaksi dengan Al-Qur’an bukan sebatas aspek tilawah, hafalan dan pemahaman. Tetapi lebih penting pada sisi pengamalan Islam dan dakwah yang terus mengacu pada bimbingan Al-Qur’an. Sepatutnyalah kita mendidik dan melatih anak-anak kita untuk melaksanakan aktivitas hariannya dengan acuan Al-Qur’an serta berusaha menemukan jawaban atas persoalan-persoalan hariannya dalam Al-Qur’an.
3. Membimbing kepada Penerapan Amal

Islam adalah diinul ‘amal. Artinya bahwa Islam mengedepankan kebaikan amal sebagai bukti dari keimanan dan pemahaman. Selanjutnya, penerapan amal justru akan mempercepat dan memperkokoh bangunan keimanan dan pemahaman terhadap Islam. Tentu saja semua ini dilakukan dengan menjaga agar setiap amal yang dilakukan dilandasi oleh keikhlasan dan pemahaman.
Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam mendidik umatnya. Mereka menjadi qaumun ‘amaliyyun atau orang yang senantiasa beramal. Tidak sekedar pandai berbicara tetapi juga mampu mengamalkan. Itulah yang disebut orang-orang yang memiliki integritas pribadi.
“Dan katakanlah: ‘Beramallah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya beserta orang-orang mukmin akan melihat amalmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan’” ( Q.S. At-Taubah/9: 105).
Pendidikan yang kita lakukan pada anak-anak kita bukanlah sekedar untuk memberikan pelajaran atau ilmu semata, tetapi sebagai bekal anak agar mereka bisa mengamalkan ilmu mereka. Contohnya dalam mengajarkan shalat. Kita latih anak untuk melaksanakan shalat sejak dini, seiring dengan penjelasan yang kita berikan tentang hal ikhwal shalat yang disesuaikan dengan tingkat penerimaan dan pemahaman mereka. Contoh lain adalah tentang pemakaian jilbab bagi anak-anak puteri. Kita latih mereka untuk senantiasa berjilbab ketika keluar rumah sedini mungkin, juga seiring dengan penjelasan mengapa harus berjilbab sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.
4. Mengedepankan Keteladanan dan Kepemimpinan yang Baik

Perilaku dan amal para pendidik, terlebih orang tua adalah cerminan dari pemahamannya. Mereka adalah teladan dalam pembicaraan dan amalan. Maka kunci keberhasilan dalam mendidik anak adalah ketika para pendidik mampu menerapkan syiar “ashlih nafsaka, wad’u ghairaka” (perbaiki dirimu, kemudian serulah orang lain). Inti dari syiar itu adalah keteladanan pendidik. Misalnya dalam tataran memerintah, maka yang mesti dipakai adalah kata mengajak daripada kata menyuruh. Apa perbedaan kedua kata tersebut? Kata menyuruh mengandung makna tidak adanya keterlibatan si pemberi perintah. Sementara kata mengajak, si pemberi perintah juga ikut terlibat atau melaksanakan apa yang diperintahkan.
Rasulullah saw. telah menampilkan keteladanan ini dalam dirinya. Sungguh, beliau adalah teladan sempurna bagi manusia. Dengan cara inilah Rasulullah sukses mengader sahabat-sahabatnya. Islam menampilkan keteladanan sebagai sarana dakwah dan tarbiyah yang paling efektif. Sehingga Islam menetapkan sistem pendidikan yang kontinyu atas dasar prinsip keteladanan tersebut.
Dengan mengacu apa yang telah dilakukan Rasulullah saw. dalam mendidik putra-putri beliau serta para sahabat, insya Allah anak-anak kita memiliki kepribadian yang kokoh serta kepercayaan diri yang kuat, yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an.
Semoga dengan kasih sayang, bimbingan, dan keteladanan kita, mampu menjadikan mereka sebagai anak-anak shaleh yang akan eksis pada zamannya serta mempu menyumbangkan potensi mereka untuk kembali meraih kejayaan Islam sebagaimana yang telah diraih oleh para salafus shaleh terdahulu.

Penulis adalah orang tua siswa SMPIT Nur Hidayah dan aktivis dakwah.

Hati-Hati Dengan Ucapan Kita pada si Kecil

Kata orang bijak, apa yang kita masukkan ke dalam mulut itu seringkali tidak lebih berbahaya ketimbang apa yang kita keluarkan. Yang keluar dari mulut kita bisa menusuk perasaan. Bahkan, kalau terhadap anak kecil (balita), apa yang keluar dari mulut kita bisa membentuk kepribadian.

Sayangnya, orangtua sering kurang menyadari apakah ucapannya selama ini lebih merupakan ekspresi perasaan (expressing) atau justru berupa penyerangan (attacking). Seringkali orang tua juga kurang menyadari apakah ucapannya lebih sering berupa hasil penilaian objektif (fair dan membangun) atau hanya berupa pujian yang menipu.

Ekspresi berarti kita menyatakan ketidaksetujuan kita pada anak dengan bahasa / gaya yang menyadarkan anak (emphatic way). Sedangkan kalau attacking itu kita menyerang kepribadian anak dengan kata-kata yang menjatuhkan atau menegatifkan.

Penilaian juga begitu. Menilai itu artinya kita melihat anak dari sisi anaknya. Apa yang kurang kita perbaiki dan apa yang sudah baik kita kasih reward (pujian, hadiah, dst). Ini beda dengan pujian yang menipu. Karena kita nggak mau susah, atau supaya anak kita ”senang” dan tidak rewel, lalu kita puji-puji dia.

Antara Over & Minder
Studi para ahli, seperti dikutip Prof. Quraish Shihab (Lentera Hati: 1994), mengungkap, sebagian besar penyebab kekurangan dan kehebatan orang dewasa itu terkait pada masa kecil. Berbagai temuan lain pun mengungkap yang sama.

Anak yang sering kita serang kepribadiannya dengan ucapan yang menjatuhkan, akan berpotensi punya konsep-diri rendah, seperti minder atau mudah merasa saya tidak bisa. Sebaliknya, anak yang sering kita puji tanpa alasan atau dengan alasan yang sangat subyektif akan berpotensi over (kurang tahu dirinya).

Baik over dan minde, keduanya adalah kekurangan. Bahkan jika kekurangan itu sudah mengakumulasi sedemikian mendalam, akan mungkin membentuk bawaan (trait) yang sulit diubah. Kasihan kan anak kita?

Fokus Pada Tindakan
Bagaimana supaya kita tidak kebablasan melontarkan kata-kata yang dapat menyerang kepribadian atau memberikan pujian yang terlalu subjektif? Syaratnya adalah latihan memfokuskan ucapan hanya untuk mengomentari tindakannya, bukan orangnya.

Katakanlah si Kecil ogah mandi karena lagi enak-enaknya nonton. Kalau kita tidak fokus pada tindakannya supaya mau mandi, biasanya kita tergoda untuk melontarkan ucapan yang merembet kemana-mana, misalnya mengatakan pemalas, selalu menentang orangtua, dan seterusnya.

Begitu juga dengan menilai si anak. Sejauh dasarnya bukan tindakan atau perkembangan nyata, maka pujian yang kita berikan itu sama sekali tidak membentuk self-esteem (harga-diri positif). Mungkin itu dapat disebut pujian semu. Semoga bisa kita jalankan.

Sumber: SahabatNestle

Batasan Hukuman Anak

Menghukum anak merupakan salah satu cara agar anak Anda lebih disiplin. Tip-tip berikut ini bisa membantu Anda menerapkan hukuman. Bagaimana cara Anda menentukan batasan dan menerapkan hukuman? Simak tip berikut.

JANGAN MENYUAP
Boleh saja memberi imbalan kepada anak atas sikapnya yang baik (misalnya memberikan hadiah stiker kepada anak karena telah bersikap baik di restoran). Hal itu menegaskan bahwa ia perlu bersikap baik pada kesempatan lainnya. Tapi, jangan menyuap atau memberi imbalan jika anak sedang berulah. “Jangan pernah mengatakan kepada anak akan membelikan sesuatu jika dia berhenti menangis,” kata Maureen O’Brien, Ph.D, spesialis perkembangan anak di Boston. “Dia akan belajar dengan cepat bahwa dengan sedikit berulah, ia bisa mendapatkan perhatian ibunya dan sebuah boneka Barbie baru.”

KONSISTEN
Putuskan perbuatan apa saja yang dilarang di rumah, misalnya seenaknya memberi julukan kepada orang dan berbohong, kemudian pikirkan hukuman yang tepat dan adil setiap kali anak Anda melanggar aturan itu. Pastikan suami Anda dan pengasuh anak menyetujui metode Anda dalam mendisiplinkan anak.

JANGAN MENDIAMKAN
Teknik ini kadang kala kita berlakukan kepada pasangan kita, namun jangan pernah terhadap anak-anak. Pertama, perbuatan itu memuat pesan: rasa sayang dan perhatian Anda bisa berubah dan saat anak Anda berulah, Anda memutuskan rasa sayang dan perhatian Anda. Kedua, banyak anak yang juga sama marahnya dengan Anda, merasa lebih suka Anda meninggalkan mereka. Pendekatan yang lebih baik adalah memberitahu anak bahwa Anda perlu menenangkan diri dan memikirkan hukuman yang tepat untuknya.

JELASKAN KEINGINAN ANDA
Anda harus menjelaskan, bagaimana Anda mengharapkan anak-anak berperilaku pada situasi tertentu. Misalnya, jika Anda pergi ke taman, Anda bisa menyatakan bahwa mereka boleh bemain di dalam taman tapi tidak boleh di area parkir. Mereka boleh bermain seluncuran, tapi tidak boleh dengan kepala duluan. Bicarakan hal ini sebelum memulai aktivitas dan katakan apa hukumannya jika mereka tidak menaati kata-kata Anda.

JANGAN MENGHUKUM BERLEBIHAN
Anak-anak belajar dari kesalahan dan mereka tidak semestinya dihukum setiap kali melakukan kesalahan. “Simpan hukuman itu untuk saat dimana anak Anda bena-benar membangkang dengan sengaja,” kata Dr. Peters. “Dengan memberikannya hukuman yang adil bagi perilaku buruknya, Anda mengajarinya membuat pilihan – yang merupakan inti kehidupan.”

Parents Indonesia

Menyiapkan Biaya Kuliah si Kecil

Jika saat ini Anda memiliki anak yang berusia 1 tahun, jangan kaget bahwa total biaya pendidikannya hingga 18 tahun mendatang, dari SD sampai Perguruan Tinggi, bisa mencapai Rp 1 miliar. Sungguh, kami tidak bergurau!

Menurut Ligwina Hananto MBA, konsultan keuangan Quantum Magna Financial, biaya pendidikan rata-rata naik sekitar 20% per tahun. Belum lagi laju inflasi di Indonesia. “Inflasi untuk sekolah swasta di Indonesia sekitar 20% per tahun, dan 15% per tahun untuk universitas di Indonesia,” tambah Ligwina.

Sebagai gambaran, bila inflasi diestimasikan sekitar 6% per tahun, maka dalam 9 tahun saja, total inflasi menjadi sebesar 54%. Jika saat ini biaya kuliah per semester di universitas negeri Rp 5 juta dengan uang pangkal sekitar Rp 20 juta, maka biaya kuliah yang harus Anda persiapkan untuk tahun 2017 menjadi sekitar Rp 107,8 juta (dengan perhitungan future value). Jika biaya buku perkuliahan dan alat tulis sekitar Rp 5 juta per semester, maka tambahkan lagi angka Rp 77 juta untuk biaya buku selama 10 semester. Belum lagi ongkos transportasi, uang makan, dan biaya hidup jika anak bersekolah di kota lain atau tinggal sendiri, anggap saja sekitar Rp 3,5 juta per bulan dan Anda mendapatkan perkiraan biaya hidup Rp 210 juta. Maka, total biaya untuk menyekolahkan si kecil di tahun 2017 menjadi Rp 400 juta. Itu berarti Anda perlu menyisihkan uang Rp 3,7 juta per bulan hingga 9 tahun ke depan! Dan, perhitungan ini hanya berlaku jika si kecil diterima di Perguruan Tinggi Negeri.

Jika Anda berencana menyekolahkannya di Perguruan Tinggi Swasta, angkanya bisa menjadi dua kali lipat. Membayangkan angka yang demikian fantastis, Anda mungkin merasa pesimis bagaimana bisa membiayai kuliah si kecil kelak, bila saat ini saja tagihan kartu kredit Anda sudah menumpuk di meja. Untuk mendapatkan solusinya, kami bertanya kepada perencana keuangan keluarga untuk membantu Anda. Ini yang perlu Anda ketahui. Menghitung biaya pendidikan.

Menurut Rina N. Sandy, RFA dari Sarosa Consulting Group, ada tiga langkah utama yang perlu Anda ketahui secara pasti. “Langkah pertama adalah menentukan pilihan,” ujar Rina. Pilihan di sini haruslah spesifik, Anda harus menentukan apakah si kecil kelak akan disekolahkan ke sekolah negeri atau swasta, di dalam atau di luar negeri, dengan standar mutu internasional atau nasional. “Menentukan secara persis pilihan sekolah bagi anak, bertujuan untuk mencari tahu berapa besar biaya sekolah dan uang pangkal saat ini.” Lanjut Rina.

Jangan lupakan juga biaya buku sekolah, seragam dan biaya hidup, apalagi jika sekolah yang dipilih berada di luar kota. Setelah Anda tahu persis pilihan sekolah dan total biaya yang dibutuhkan, maka langkah kedua adalah menentukan jangka waktu dan target biaya di masa depan. Jika saat ini si kecil berusia 3 tahun, maka Anda harus mulai berhitung kapan si kecil masuk TK, SD, SMP, SMU, dan Universitas. Kemudian sesuaikan dengan dana yang harus dialokasikan setiap bulan agar jumlahnya cukup ketika si kecil memasuki jenjang pendidikan tersebut.

Rina mengingatkan agar saat menghitung biaya, Anda tidak melupakan laju inflasi, normalnya sekitar 10% sampai 20%. Untuk menghitung biayanya, ada rumus sederhana yang bisa Anda terapkan dengan menggunakan rumus:

future value: FV= PV. (1+r)n .

FV atau future value adalah besarnya biaya di masa depan
PV adalah nominal biaya sekolah saat ini
r adalah besarnya bunga
n adalah jangka waktu yang Anda butuhkan

Bingung menghitungnya? Klik saja http://1040tools.com untuk kalkulator future value online. Setelah Anda mendapatkan nominal perkiraan, misalnya Rp 400 juta, maka dalam jangka waktu sampai si kecil masuk kuliah, Anda sudah harus bisa menyiapkan sejumlah besar dana yang dibutuhkan tersebut. Untuk itu, maka langkah ketiga –langkah yang paling penting– adalah menentukan penempatan dana sesuai dengan harapan hasil investasi yang bisa diterima di kemudian hari.

Ada banyak pilihan yang bisa Anda lakukan, mulai dari tabungan pendidikan, asuransi, hingga investasi. Semuanya disesuaikan dengan jangka waktu dan kebutuhan Anda. Jika Anda berani menanggung risiko, Anda bisa mencoba memilih investasi di bursa saham yang akan memberikan hasil yang jauh lebih tinggi daripada deposito atau tabungan pendidikan. Menyimpan biaya kuliah Meski semua penasihat keuangan akan menyarankan Anda untuk mulai menabung biaya pendidikan di rekening tersendiri bagi setiap anak sedini mungkin, jangan khawatir jika setelah melakukan perhitungan, Anda merasa tidak akan bisa menabung dengan jumlah yang dibutuhkan tersebut sampai si kecil berusia 18 tahun.

Sebagai gambaran, bila Anda mulai berinvestasi menggunakan reksadana pendapatan tetap setidaknya sekitar Rp 4 juta per tahun dengan bunga 10% per tahun sejak anak berusia setahun, maka saat si kecil masuk kuliah, Anda akan mendapatkan dana pendidikan sebesar Rp 182 juta. Meski nominal ini masih di bawah (misalnya) angka Rp 400 juta yang Anda butuhkan, dana ini tetap akan sangat membantu dibandingkan Anda tidak menyisihkan uang sama sekali.

Lalu, bagaimana mendapatkan sisanya? Jika usia si kecil masih di bawah lima tahun, maka Anda masih memiliki banyak waktu untuk menyiapkan dana tersebut. Rina menyarankan Anda memilih instrumen investasi jangka panjang seperti reksadana saham. Meski investasi ini memiliki risiko moderat hingga risiko tinggi, tapi hasil investasinya akan cukup tinggi dibandingkan menyimpan di tabungan atau deposito. Yang perlu Anda ingat jika memilih investasi jenis ini adalah Anda menyimpan untuk jangka waktu yang lama, bukan jangka pendek.

Jika Anda ragu-ragu memilih berbagai jenis investasi, maka Rina juga menyarankan agar Anda mencari pekerjaan tambahan. “Ada banyak jenis pekerjaan tambahan yang bisa Anda lakukan, apalagi jika itu menjadi bagian dari hobi Anda,” jelas Rina. Misalnya, Anda pandai membuat kue kering dan kue ulang tahun, Anda bisa menawarkannya kepada rekan kerja atau ibu-ibu di taman bermain si kecil. Atau, jika Anda hobi menulis, Anda bisa menjadi kontributor media cetak. Selain itu, masih ada pilihan lain yang bisa membuat Anda menarik napas lega, universitas besar biasanya akan memberikan beasiswa bagi murid-murid yang berprestasi di sekolahnya. Dan, ini bukan hanya di bidang akademis. Universitas Pelita Harapan di Tangerang misalnya, memberikan beasiswa bagi anak-anak yang menonjol di bidang olahraga bola basket.

Perguruan Tinggi Negeri juga menyediakan beasiswa bagi mahasiwanya yang memiliki nilai akademik tinggi. Bahkan perusahaan besar seperti Sampoerna Foundation, atau Yayasan Chevron Texaco dari Caltex, dan beberapa kedutaan besar di Indonesia, membuka bantuan beasiswa setiap tahunnya. Ketika Anda merasa kewalahan mengatur keuangan dengan berbagai kebutuhan si kecil mulai dari popok, susu, babysitter, hingga uang pangkal si kecil di kelompok bermain, memang berat membayangkan bagaimana Anda masih bisa menyisihkan sedikit uang ekstra dari gaji bulanan Anda untuk biaya pendidikan si kecil.

Yang perlu Anda ingat bahwa saat anak-anak masih kecil, Anda belum berada pada posisi puncak karir dan pendapatan. Lima belas tahun dari sekarang, kemungkinan besar gaji Anda akan meningkat, dan biaya pengeluaran untuk kebutuhan bulanan anak juga semakin berkurang, dan Anda akan punya sisa gaji bulanan yang lebih besar untuk membantu membiayai kuliah anak. Melihat besarnya biaya dengan perspektif nyata

Yang terakhir, Rina menyarankan Anda untuk bersikap realistis. Jika memang kondisi keuangan keluarga belum bisa mencukupi kebutuhan tersier, maka Anda disarankan untuk menurunkan pilihan. “Menyekolahkan anak di perguruan tinggi ternama di Amerika mungkin menjadi cita-cita sebagian besar orang tua, tapi jika kondisi keuangan memang tidak mencukupi, daripada Anda terjebak utang, lebih baik Anda menyekolahkannya di negeri sendiri”, jelas Rina.

Anda memang tidak disarankan untuk meminjam uang ke bank untuk biaya kuliah anak. Mengapa? Karena akan sangat membebani secara finansial jika Anda harus membayar cicilan ditambah bunga. Satu hal yang juga perlu Anda ingat saat mengetahui betapa tingginya biaya kuliah: Besarnya biaya kuliah tersebut adalah proyeksi perkiraan biaya masa depan berdasarkan apa yang terjadi saat ini. Tapi, para ahli beranggapan bahwa biaya pendidikan tinggi semakin lama semakin menggila sehingga kemungkinan besar masih akan dikaji ulang sebelum si kecil yang kini berusia 2 tahun lulus dari SMU.

Saat ini memang tidak ada cara pasti untuk memerkirakan seperti apa gambaran biaya kuliah lima belas tahun lagi. Namun Anda bisa membangun awal yang baik dengan merencanakannya secara bijak dan menyisihkan uang sebanyak yang Anda bisa, serta berusaha untuk tidak terlalu panik memikirkan tingginya angka untuk biaya kuliah si kecil kelak.

Parents Indonesia

Pelajaran Antikorupsi Di Sekolah

Apa yang bisa Anda bayangkan, ketika anak-anak sekolah dasar belajar tentang pendidikan anti korupsi, di sebuah negeri yang praktek korupsinya sudah demikian merajalela?

Sebagian dari Anda, akan bersikap pesimis. Dan, Anda tidak sendirian dalam hal ini.

Tetapi terlepas dari sikap pesimistis semacam ini, Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK, justru menyiapkan program pendidikan anti korupsi untuk para siswa di sekolah menengah dan dasar.

Saat ini, KPK telah memiliki materi pelajaran antikorupsi. Seorang staf yang bertanggungjawab menangani program pendidikan antikorupsi, Dhedy Adi Nugroho memperlihatkan kepada saya sampel isi pelajaran yang dimaksudkan.

Ada beberapa buku yang bersampul warna-warni yang dihiasi gambar kartun segala. Isinya disesuaikan dengan tingkat pendidikan sang siswa, kata Dhedy.

Isi naskah buku-buku itu, dikerjakan para staf KPK dan tim ahli, yang melibatkan pula para guru dari beberapa sekolah menengah dan dasar di Jakarta.

Program ini pernah diuji coba di beberapa kota, dan sekarang tengah dimatangkan.

Disisipkan

Pogram antikorupsi di sekolah ini akan nantinya tidak akan menjadi mata pelajaran tersendiri?, tapi hanya akan disisipkan ke kurikulum yang ada, kata
Dhedy Adi Nugroho.

Belum ada kerjasama yang jelas KPK dengan pihak Depdiknas dalam program ini. Tetapi Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas Diah Hartanti mendukung penerapan program ini di sekolah-sekolah, walaupun nantinya bukan sebagai mata pelajaran tersendiri nantinya.

Dhedy Adi Nugroho menepis kekhawatiran program KPK ini nantinya mirip dengan program Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, atau P-4, yang pernah dipraktekkan di masa rezim Orde Baru. Salah-satu perbedaannya adalah program ini tidak diwajibkan masuk kurikulum seperti P-4 dulu.

Saat mengomentari gagasan KPK, Agus Setia, guru SMA Negeri 5 Bandung, menyatakan, dia juga khawatir program ini tidak berjalan, karena institusi sekolah juga tak terlepas dari budaya korupsi.

Tapi Pak Agus memberikan jalan keluar bahwa sekolah harus mulai membenahi diri.

Nada pesimis juga diutarakan seorang guru bernama Hafidz Supriadi, guru SMK 56 Jakarta. Dia khawatir bahwa budaya korupsi yang sudah mengakar di mana-mana.

‘Memberi kesempatan’

Atas tanggapan yang bernada pesimis ini, KPK mengaku terus memperbaiki program ini. Salah-satu langkah penting yang terus dievaluasi adalaha bagaimana mengukur keberhasilan program pendidikan anti korupsi ini, kata Dhedy Adi Nugroho.

Dhedy juga mengharap, program ini nantinya akan membuat para siswa akan siap mental dalam masyarakat yang korup.

Dia juga melihat program ini kela akan mencetak siswa yang tidak malu bersikap tidak melakukan korupsi, walaupun tidak populer.

Dhedy, dan orang-orang yang duduk di KPK, memang dituntut bersikap optimis dalam memerangi praktek korupsi, di tengah nada pesimis yang berkembang di masyarakat.

Bagi pengamat pendidikan Darmatingyas, KPK harus diberi kesempatan untuk menjalankan program ini.

Heyder Affan
Produser BBC Siaran Indonesia